Sebagai pelanggan setia jasa cuci mencuci, Gw pasti mencari jasa yang terbaik. Baik untuk hasil cucinya dan baik untuk kantong. Maklum anak kos (heheh). Awalnya gw memilih jasa A untuk mencuci. Dengan pertimbangan lebih dekat dan tidak perlu keluar bensin untuk mengantar pakaian. Salah satu prinsip ekonomi adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya. Atas dasar teori dari pak guru waktu SMP maka gw cari yang paling ekonomis.
Setelah beberapa kali mencuci. Gw merasa tidak puas. Pertama, waktu buka laundry A terlalu siang. Gw yang lebih sering berangkat pagi (itu pun kalo bangun) merasa kesulitan jika harus menunggu laundry yang buka terlalu siang. Pernah, gw menyempatkan diri bangun siang (hehehe. Padahal tiap hari bangun siang) dan sudah siap pergi ke laundry dengan setumpuk pakaian kotor yang akan dicuci. Dengan semangat 45 gw jalan kaki ke laundry. Setibanya di sana. Gondok gw jatuh, mata gw terbelalak. Mulut gw menganga (lebay mode on) saat melihat laundrynya tutup-makan siang. Buset dah.. Akhirnya gw terpaksa balik lagi dengan cucian setumpuk.
Keesokan harinya gw putuskan untuk pindah laundry. Hal sederhana seperti jam operasional dan ketersediaan tenaga stand-by di lokasi bisa menjadi kerugian. Jika itu terjadi pada setiap pelanggan. Maka berapa banyak laundry itu akan kehilangan pelanggan setiap bulannya.
Setelah survey gw pun menemukan laundry yang cukup menarik. Di sana gw mendapatkan pelayanan yang ramah, dan gw bisa memiliih parfum apa yang akan digunakan pada pakaian. Selain itu, laundry ini menjamin bahwa cucian gw tidak akan di campur dengan cucian lain. Walau pun gw ngga melihat langsung prosesnya, tapi kata-kata itu cukup membuat gw tersihir untuk mencuci di laundry B.
Gw memang harus mengeluarkan bensin motor karena agak jauh. Gw juga harus membayar lebih mahal (beda Rp1000-heheh). Tapi, karena gw merasa puas dengan hasil cucian yang bersih dan wangi, gw pun berlangganan di sana. Bulan berganti bulan, gw pun tetap setia di laundry B. Jadi, menurut gw pelanggan akan tetap setia jika mendapatkan point lebih. Bisnis laundry ada di mana-mana, namun jika bisa memberikan point lebih maka tetap akan diminati.
Hingga kemarin, gw masih setia. Kini, gw kecewa. Pasalnya, saat gw mau ambil cucian yang sudah gw titipkan sebelum libur natal dan tahun baru, pihak laundry memberi tahu bahwa mulai 1 januari mereka tidak menerima pakaian dalam. WHATTT!!!!. Jadi, gw harus mencuci pakaian dalam di tempat lain? Minus point.
Karena penasaran, gw pun menayakan alasannya. Pihak laundry menjelaskan bahwa setelah mereka rapat "management" maka hal tersebut diputuskan. Pihak laundry tidak mau menerima pakaian dalam yang kotor. Menurut mereka banyak dari pekerja cuci mereka yang muntah saat mendapati pakaian dalam kotor. BAHH... Terus harus mencuci pakaian dalam bersih? (hahhaha). Namanya juga jasa cuci. Ya, harus siap dengan hal seperti itu. Pihak laundry meminta maaf berkali-kali karena merasa merugikan pelanggan lain. Tapi buat gw, maaf itu tidak bisa mengurungkan niat gw untuk mencari laundry baru yang mau mencuci pakaian kotor. Hilang pelanggan lagi.
Bisnis jasa bukan sekadar menjual jasa tapi harus juga memberikan pelayanan dan kepuasan pelanggan. Berbeda sedikit dari bisnis product, mengecewakan pelanggan dalam bisnis jasa bisa fatal akibatnya. Apalagi kekuatan verbal dari konsumen yang kecewa dan menceritakan hal tersebut bisa berdapak pada, peyebaran informasi yang cepat. Dan ujung-ujungnya konsumen tidak lagi mau menggunakan jasa tersebut.
Salam Bro
