Label

Sabtu, 05 Januari 2013

Jangan Kecewakan Konsumen

Sebagai anak kosan, gw sangat mengandalkan laudry atau jasa cuci pakaian untuk sehari hari. Alasannya simple. Males nyuci sendiri (hehehe). Buat yang males kaya gw, jasa seperti ini menjadi peluang bisnis yang sangat potensial. Pasalnya, kebutuhan untuk mencuci merupakan kebutuhan "kodrati" yang tidak bisa ditawar-tawar. Coba saja bayangkan jika tidak ada yang mencuci pakaian. Beuh...pada bau dah.

Sebagai pelanggan setia jasa cuci mencuci, Gw pasti mencari jasa yang terbaik. Baik untuk hasil cucinya dan baik untuk kantong. Maklum anak kos (heheh). Awalnya gw memilih jasa A untuk mencuci. Dengan pertimbangan lebih dekat dan tidak perlu keluar bensin untuk mengantar pakaian. Salah satu prinsip ekonomi adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya. Atas dasar teori dari pak guru waktu SMP maka gw cari yang paling ekonomis. 

Setelah beberapa kali mencuci. Gw merasa tidak puas. Pertama, waktu buka laundry A terlalu siang. Gw yang lebih sering berangkat pagi (itu pun kalo bangun) merasa kesulitan jika harus menunggu laundry yang buka terlalu siang. Pernah, gw menyempatkan diri bangun siang (hehehe. Padahal tiap hari bangun siang) dan sudah siap pergi ke laundry dengan setumpuk pakaian kotor yang akan dicuci. Dengan semangat 45 gw jalan kaki ke laundry. Setibanya di sana. Gondok gw jatuh, mata gw terbelalak. Mulut gw menganga (lebay mode on) saat melihat laundrynya tutup-makan siang. Buset dah.. Akhirnya gw terpaksa balik lagi dengan cucian setumpuk. 

Keesokan harinya gw putuskan untuk pindah laundry. Hal sederhana seperti jam operasional dan ketersediaan tenaga stand-by di lokasi bisa menjadi kerugian. Jika itu terjadi pada setiap pelanggan. Maka berapa banyak laundry itu akan kehilangan pelanggan setiap bulannya. 

Setelah survey gw pun menemukan laundry yang cukup menarik. Di sana gw mendapatkan pelayanan yang ramah, dan gw bisa memiliih parfum apa yang akan digunakan pada pakaian. Selain itu, laundry ini menjamin bahwa cucian gw tidak akan di campur dengan cucian lain. Walau pun gw ngga melihat langsung prosesnya, tapi kata-kata itu cukup membuat gw tersihir untuk mencuci di laundry B. 

Gw memang harus mengeluarkan bensin motor karena agak jauh. Gw juga harus membayar lebih mahal (beda Rp1000-heheh). Tapi, karena gw merasa puas dengan hasil cucian yang bersih dan wangi, gw pun berlangganan di sana. Bulan berganti bulan, gw pun tetap setia di laundry B. Jadi, menurut gw pelanggan akan tetap setia jika mendapatkan point lebih. Bisnis laundry ada di mana-mana, namun jika bisa memberikan point lebih maka tetap akan diminati.

Hingga kemarin, gw masih setia. Kini, gw kecewa. Pasalnya, saat gw mau ambil cucian yang sudah gw titipkan sebelum libur natal dan tahun baru, pihak laundry memberi tahu bahwa mulai 1 januari mereka tidak menerima pakaian dalam. WHATTT!!!!. Jadi, gw harus mencuci pakaian dalam di tempat lain? Minus point. 
Karena penasaran, gw pun menayakan alasannya. Pihak laundry menjelaskan bahwa setelah mereka rapat "management" maka hal tersebut diputuskan. Pihak laundry tidak mau menerima pakaian dalam yang kotor. Menurut mereka banyak dari pekerja cuci mereka yang muntah saat mendapati pakaian dalam kotor. BAHH... Terus harus mencuci pakaian dalam bersih? (hahhaha). Namanya juga jasa cuci. Ya, harus siap dengan hal seperti itu. Pihak laundry meminta maaf berkali-kali karena merasa merugikan pelanggan lain. Tapi buat gw, maaf itu tidak bisa mengurungkan niat gw untuk mencari laundry baru yang mau mencuci pakaian kotor. Hilang pelanggan lagi. 

Bisnis jasa bukan sekadar menjual jasa tapi harus juga memberikan pelayanan dan kepuasan pelanggan. Berbeda sedikit dari bisnis product, mengecewakan pelanggan dalam bisnis jasa bisa fatal akibatnya. Apalagi kekuatan verbal dari konsumen yang kecewa dan menceritakan hal tersebut bisa berdapak pada, peyebaran informasi yang cepat. Dan ujung-ujungnya konsumen tidak lagi mau menggunakan jasa tersebut. 


Salam Bro

Pengantar dan Perkenalan

Terima kasih sudah masuk ke Blog ini. Mungkin, Anda tidak sengaja masuk ke Blog ini dan mengira bahwa ini adalah Blog kuliner yang mengulas tentang SOMAY. Tidak 100% Anda Salah. Blog ini bisa jadi Blog kuliner yang melihat dari sisi berbeda. 

SOMAY sendiri merupakan singkatan dari Sotoy Maniya. Kalau ketemu dengan ahli bahasa bisa saja Kata Maniya yang seharusnya ditulis Mania jadi perdebatan yang panjang. Alasannya sederhana. Yahoo saja pake huruf Y (hahhaa). Kalau Yahoo pake huruf I jadinya Iahoo (hahaha). Namanya juga Sotoy alias sok tahu. 

SOMAY ditulis oleh tiga orang (rencananya). Panggil saja kami dengan Bro, Men, Cuy. Yang sudah pasti nulis itu Bro sama Men. Gw yang nulis ini Bro. Cuy masih dalah tahap konfirmasi. Tau deh mau apa ngga (hahahah). Kami ingin berbagi cerita dan ke-sotoy-an kami seputar dunia bisnis dan wirausaha. Berbekal pengalaman dan kegagalan, kami pengusaha yang belum berhasil ini ingin berbagi dengan sesama pejuang kehidupan (hahahah).

Kayaknya, sekian dulu perkenalan dari Gw. Nanti kita sambung lagi. Tunggu cerita dan ke-sotoy-an kami ya (emang penting ya?Hahaha). 


Salam Bro..