Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?
Mayoritas headline media cetak ataupun elektronik berskala nasional maupun lokal dalam beberapa hari terakhir menyuguhkan wajah Jakarta yang berhias air. Yep banjir dimana-mana jek. Jalan protokol, jalan kampung, jalan tikus, daerah bergengsi yang harga tanahnya per meter bisa buat beli es dungdung lima ton, sampai tanah yang status tanahnya gak jelas, gak luput dari si air yang warnanya coklat susu ini jek.
Efek dari banjir, banyak pihak yang bilang bisa mengganggu jalannya perputaran roda ekonomi. Tergantung si ngeliatnya dari mana dulu. dari satu sisi mah banjir emang bisa ganggu pola jam kerja para pekerja. Alhasil, banyak pekerja yang menjadikan alasan BANJIR PAK, rumah saya kelelep, jalanan gak bisa dilewati tingginya sedada. Angkotnya mogok, keretanya mundur lagi rel gak bisa dilewati, bla-blalalalblabka, sebagai senjata untuk tidak masuk kerja.
Bagi yang emang dasarnya males juga bisa aja ikut-ikutan menjadikan momen ini sebagai kesempatan BERHARGA untuk tidak menempelkan jarinya ke finger print absensi. Yeah enak ni bisa selimutan sampe puas.
Tapi kembali ke pokok persoalan, banjir memang bisa mengganggu rutinitas kerja dan usaha. Coba itung aja berapa banyak kerugian yang tercipta akibat perputaran uang tidak berjalan akibat lumpuhnya akses mobilitas orang maupun barang. Ngitungnya gimana? Ada yang tahu. Beda kepentingan, beda kerugian. Elo elo, gue gue. Individualis abis.
Bagi yang bingung mengukur kerugian yang dimaksud, bisa pakai cara gampang mengukurnya dengan melihat dari status atau foto yang seseorang tampilkan di Path, Twitter, Facebook. Dari hasil survei yang ane lakukan mayoritas semua memposting kekesalan mereka terhadap banjir, dan seperti biasa lagi-lagi yang disalahkan dalam hal ini adalah pemerintah. Bukannya sok suci, ada pepatah lama mengatakan bahwa introspeksi dulu dirimu jek sebelum menyalahkan orang lain.
Banjir emang katro, selain bisa menyebabkan kerugian materi, nyawa juga menjadi pertaruhannya jek. SERIUS!!!!! Yang namanya urusan nyawa bukan bahan becandaan Jek.
Tapi bagi beberapa orang banjir bisa aja membawa berkah. Tengok aja ojek gerobak yang dipakai buat menjadi kendaraan penyelamat bagi motor-motor atau orang yang ingin melewati lautan banjir dadakan. Tengok aja orang-orang yang menyediakan lap atau busi buat menolong orang yang motornya mati. Pertolongan yang dimaksud si tetep aja dikenakan biaya.
Lagi-lagi tanpa bermaksud bercanda soal BENCANA BANJIR, mungkin ada baiknya setiap orang merenung dan segera melakukan tindakan nyata untuk mencegah banjir. JANGAN CUMA PASANG STATUS terus lo asik FOTO-FOTO BANJIR. Bayangkan jika tiba-tiba Indonesia di landa badai salju, apa kita siap menerimanya. Amit-amit dah. ane sendiri juga gak tau harus gmn biar gak banjir jakarta.
SalaMen