Label

Tampilkan postingan dengan label Men. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Men. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?

Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?

                Mayoritas headline media cetak ataupun elektronik berskala nasional maupun lokal dalam beberapa hari terakhir menyuguhkan wajah Jakarta yang berhias air. Yep banjir dimana-mana jek. Jalan protokol, jalan kampung, jalan tikus, daerah bergengsi yang harga tanahnya per meter bisa buat beli es dungdung lima ton, sampai tanah yang status tanahnya gak jelas, gak luput dari si air yang warnanya coklat susu ini jek.
                Efek dari banjir, banyak pihak yang bilang bisa mengganggu jalannya perputaran roda ekonomi. Tergantung si ngeliatnya dari mana dulu. dari satu sisi mah banjir emang bisa ganggu pola jam kerja para pekerja. Alhasil, banyak pekerja yang menjadikan alasan BANJIR PAK, rumah saya kelelep,  jalanan gak bisa dilewati tingginya sedada. Angkotnya mogok, keretanya mundur lagi rel gak bisa dilewati, bla-blalalalblabka, sebagai senjata untuk tidak masuk kerja.
Bagi yang emang dasarnya males juga bisa aja ikut-ikutan menjadikan momen ini sebagai kesempatan BERHARGA untuk tidak menempelkan jarinya ke finger print absensi. Yeah enak ni bisa selimutan sampe puas.
Tapi kembali ke pokok persoalan, banjir memang bisa mengganggu rutinitas kerja dan usaha. Coba itung aja berapa banyak kerugian yang tercipta akibat perputaran uang tidak berjalan akibat lumpuhnya akses mobilitas orang maupun barang. Ngitungnya gimana? Ada yang tahu. Beda kepentingan, beda kerugian. Elo elo, gue gue. Individualis abis.
Bagi yang bingung mengukur kerugian yang dimaksud, bisa pakai cara gampang  mengukurnya dengan  melihat dari status atau foto yang seseorang tampilkan di Path, Twitter, Facebook. Dari hasil survei yang ane lakukan mayoritas semua memposting kekesalan mereka terhadap banjir, dan seperti biasa lagi-lagi yang disalahkan dalam hal ini adalah pemerintah. Bukannya sok suci, ada pepatah lama mengatakan bahwa introspeksi dulu dirimu jek sebelum menyalahkan orang lain.
Banjir emang katro, selain bisa menyebabkan kerugian materi, nyawa juga menjadi pertaruhannya jek. SERIUS!!!!! Yang namanya urusan nyawa bukan bahan becandaan Jek.
Tapi bagi beberapa orang banjir bisa aja membawa berkah. Tengok aja ojek gerobak yang dipakai buat menjadi kendaraan penyelamat bagi motor-motor atau orang yang ingin melewati lautan banjir dadakan. Tengok aja orang-orang yang menyediakan lap atau busi buat menolong orang yang motornya mati. Pertolongan yang dimaksud si tetep aja dikenakan biaya.
Lagi-lagi tanpa bermaksud bercanda soal BENCANA BANJIR, mungkin ada baiknya setiap orang merenung dan segera melakukan tindakan nyata untuk mencegah banjir. JANGAN CUMA PASANG STATUS terus lo asik FOTO-FOTO BANJIR. Bayangkan jika tiba-tiba Indonesia di landa badai salju, apa kita siap menerimanya. Amit-amit dah. ane sendiri juga gak tau harus gmn biar gak banjir jakarta.
SalaMen

Rabu, 09 Januari 2013

ekonomis vs ekonomis

Ekonomis vs Ekonomis

                Ah mau sok2an ngomongin ekonomis ah..... Meski kendati biarpun whatever gw pas SMA ngambil IPS yang notabene jurusan IPS yang identik dengan yang namanya pelajaran ekonomi, tapi kalau ditanya mashab, model, prinsip ataupun itu yang gw tau, prinsip ekonomi harus menguntungkan. Setuju? Bodo amat kalau gak setuju hahaha. Kalau bicara mashab atau aliran atau sekte apapun di ekonomi yang lainnya apalagi yang pake rumus2an segala gw gak mau sok tau.
             Back to trek, kalau ngomong soal prinsip ekonomis yang dimaksud, kali ini gw akan bercerita soal seberapa sering kita menimbang2 dalam urusan naik angkutan umum. Biasanya orang yang penghasilannya tinggi kaya gw, Amin, kalau mau naek angkutan umum sering mikir mana yang paling murah, mana yang paling cepet, mana yang paling nyaman. Nah dalam kasus ini, gw bersama si Bro berencana pergi ke Grand Indonesia, tujuannya mau makan gaji buta. Start kita dari daerah Sahid. Background waktu siang hari bolong pas makan siang. Nah bagi yang familiar dengan rute panas Sudirman-Thamrin tentu bisa membayangkan kondisi rute panas yang akan kami lalui. Macet, Panas.blaa blaa blaaa
Sempat terjadi perdebatan dalam memutuskan pilihan angkutan yang akan kami gunakan. Opsi pertama, naik TJ aje, alias Trans Jakarta. Ongkos saat itu jauh deket masih Rp3.500 per orang. Alasan lain yang dipakai dalam opsi ini, haltenya gak gitu jauh sekitar 200 meter. perkiraan gw. Tapi opsi ini mendapatkan tentangan dari opsi lain yang beralasan jarak 200 meter dirasain jauh jek, dan belum tentu juga 200 meter pas bisa lebih jauh, bisa lebih pendek sih, tapi panas pula. belum lagi urusan nunggu TJ-nya, kalau cepet, kalau lama, ngantri, penuh pula, disamping itu ntar pas turun halte tujuan masih harus jalan lagi ke lokasi, cape deh. Anak mami males jalan..
Opsi yang berikutnya adalah naek bus kota, keuntungannya gak usah masuk halte, jegat dimana aja juga berhenti tuh bus, asalkan liat tangan menjulur ke arahnya, noh bus segede gambreng yang asep knalpotnya amit2 bakal mendekat bak magnet yang dilekati besi. Srrr. But yang jadi permasalahan disini adalah kita gak tau nomor busnya. Jadi harus nunggu gak jelas, atau harus sekalian tanya2 ke kenek yang bersangkutan busnya itu lewat tujuan kita kaga. Pake cara kaya gitu, panas jek, cape pula, rasa dahaga bisa bertambah, belum kalau nunggunya pake ngerokok atau beli minuman botol yang rata2 harganya Goceng alias Rp5.000, dikali 2 aja udah ketauan berapa. Hah.
Nah opsi terakhir adalah menggunakan taksi. Gambling juga si, kan harus nunggu yang kosong, belum lagi prime time nya taksi tuh pas maksi, tapi plusnya jelas skali naik sebut tujuan sampe. Mau dibawa kemana aja tuh taksi juga mau hahaha apalagi yang belum dapet tarikan dari pagi tuh supir pasrah kali.
                Setelah menimbang prinsip ekonomis dari ketiga opsi yang ada. Opsi pake taksi lebih ekonomis jek. Coba kita review, naik taksi dengan jarak tarif bawah skali buka pintu rata2 Rp.5000, taksi biasa ye bukan yang premium taksi, (harga berapa ya?) nah estimasi jarak yang akan ditempuh kurang dari 1,5 km, ya paling  kalau lancar total sekitar Rp8.000-an, kalau macet ada demo kerusuhan atau banjir ya itung aje sendiri biayanya. Nah kalau naik TJ, Rp3.500 dikali 2 adalah Rp7.000, belum kalau jalan ke halte jauh harus beli minum Rp5.000 hah lebih mahal jek gak ekonomis. Kalau naik bus kayanya lebih murah si, ongkos bus kota berapa sih gw gak tau, terakhir kali naik metromini udah lama juga, bukannya sombong, gw biasanya naik motor kesayangan. Tapi kalau gak salah si Rp2.000, total berdua emang hanya Rp4.000, tapi ya lagi2 panas2 keringetan  males jek. Turun ditujuan, tujuan gw pasti beli minuman botol, lagi2 dalam hal ini harus mengeluarkan dana dari kantong. Anak mami sok tajir melintir males naik bus non AC tapi pelitnya minta ampun.
                Intinya si, mungkin ada orang yang berpikir naik taksi mahal tapi kalau diperhitungkan dari berbagai sisi, berbagai opsi, naik taksi kadang lebih menguntungkan secara nilai ekonomis, kendati gw sendiri sebenernya gak paham yang dimaksud ekonomis itu apa. Hidup taksi. Nangkep gak maksudnya? Kaga? Bodolah.
-SalaMen-