Label

Tampilkan postingan dengan label Strategi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Strategi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis

Hari ini hampir semua pemberitaan di Ibu kota dipenuhi dengan persoalan banjir. Sejak tadi pagi, soal banjir ini sudah ramai di mana-mana. Mulai dari obrolan orang yang belum berangkat ke kantor dengan alasan banjir, jejaring sosial yang dipenuhi dengan foto dan cuap-cuap banjir, hingga media berita televisi yang super heboh dengan banjir. Sepertinya tidak habis-habisnya soal banjir hari ini dibicarakan.

Dari pengamatan pandangan mata, tidak sedikit dari para pekerja yang akhirnya memutuskan untuk pulang lagi karena banjir. Bahkan tidak sedikit juga yang terpengaruh pada berita di sana-sini dan akhirnya memilih untuk tidak berangkat kerja. Kesempatan memang. Kapan lagi bisa tidak masuk kerja jika bukan saat banjir di mana-mana seperti ini.

Kali ini, gw bukan mau ngobrol soal banjir. Tapi peristiwa hari ini, menarik buat gw. Kebanyakan orang fokus sama permasalahan banjir hari ini. Padahal, pas gw lewat beberapa tempat yang tadinya dibicarakan orang,  sudah tidak banjir lagi. Pemberitaan yang ada pun membuat orang terpusat pada masalah banjir saja. Orang tidak diajak untuk berpikir alternatif atau mencari cara yang terbaik untuk bisa mensikapi banjir. Pada akhirnya orang hanya berasumsi pada pikiran dia dan terapaku pada kesulitan yang ada.

Poin itulah yang menarik buat gw. Kenapa? Gw melihat hal itu sama seperti orang yang akan memulai suatu usaha atau bisnis. Tidak sedikit yang gw kenal, meyerah saat baru memulai bisnis. Bahkan baru memikirkannya saja sudah mulai menyerah. Tidak beda jauh bukan, dengan orang yang baru memikirkan betapa macet dan bajirnya jalanan padahal mereka masih di rumah dan memutuskan tidak berangkat kerja.

Ada tiga hal yang harus dimiliki dalam memulai suatu bisnis. Pertama adalah ide atau konsep. Ini merupakan hal awal yang harus dimiliki jika hendak memiliki suatu usaha. Biasanya di tahap ini, orang masih sangat bersemgat. Apalagi ide itu sering kali datang dari mana saja. Dan terkadang ada yang berhenti ditahap ide karena terlalu banyak memikirkan ide. Ini bukan berarti Anda tidak boleh memilki ide banyak. Sangat boleh dan harus. Dengan banyak ide Anda bisa memilih mana yang paling bisa Anda jalankan pertama. Tapi dengan catatan. Jangan terlalu sibuk pada ide Anda. karena bukan di sini akhir bisnis Anda.

Kedua, Bisnis Plan. Ini tahapan yang mulai berbobot dari pada cuap-cuap soal Ide. Anda diminta untuk mulai menuliskan dan menurunkan ide yang ada di benak Anda ke dalam suatu media. Bisa berbagai macam media untuk bisa menuangkan ide Anda. Tujuannya adalah agar bukan hanya Anda saja yang memahami Ide tersebut tapi orang lain juga. Dengan orang lain bisa memahami apa yang Anda akan buat, maka ide bisnis Anda sudah semakin menginjak bumi atau sudah mulai mendarat. Tapi jika Ide Anda masih dirasa oleh orang lain membingungkan dan tidak jelas, Anda perlu merenungkan kembali ide tersebut dan membuat ide tersebut menjadi lebih real (bisa diwujudkan). Real di sini bukan berarti Anda tidak bisa membuat hal mustahil atau belum pernah orang pikirkan. Tapi lebih pada bagaimana Anda menyakinkan diri Anda sendiri dan Anda tahu secara nyata/real apa yang akan Anda buat pertama kali. Gw selalu kagum dengan Thomas Alva Edison yang membuat nyata apa yang ia pikirkan walaupun orang lain tidak yakin dengan apa yang dia buat. Itulah yang dimaksud dengan real pada tahap kedua ini.

Ketiga adalah modal. Ini yang paling jitu membuat Anda mundur dan pulang lagi ke rumah. Sama seperti mendengar soal banjir lewat jejaring sosial atau pemberitaan lain yang membuat Anda tidak berangkat ke tempat kerja. Ketika mendengar bahwa Anda harus memiliki sejumlah modal maka tidak sedikit yang akhirnya tidak lagi bergerak dan hanya menjadi penonton "banjir" atau bahkan tidak bergerak sama sekali dan memilih diam. Parahnya, sebelum memasuki tahap pertama dan kedua, kita sering kali melompat dan melihat tahap ketiga. Sehingga sudah mundur duluan sebelum memulai tahap pertama dan kedua. Lalu apa yang harus dilakukan?

Lagi-lagi sama seperti menghadapi banjir di jalanan. Jika Anda tau tujuan Anda (tahap satu) dan tau arah Anda (tahap dua) yang bisa Anda buat adalah mencari jalan Alternatif. Sekalipun itu harus berputar lebih jauh, tapi Anda bergerak menuju tujuan dan arah akhir Anda. Berputar atau berjalan lebih jauh tapi bisa membuat Anda sampai tujuan, jauh lebih baik dari pada Anda menjadi penonton banjir dan tidak berbuat apa-apa. Atau Anda tidak bergerak sama sekali dari rumah. Ada seribu satu cara bagaimana Anda bisa sampai ketujuan jika Anda memilki komitmen untuk memulai bisnis. Sama seperti komitmen Anda untuk mencapai kantor. Caranya bagaimana? Anda sendiri yang tahu. Setiap orang memiliki jalan dan cara yang berbeda. Gw sampai kantor lewat jalan A. Temen gw sampai kantor lewat jalan B dengan sedikit macet. Tapi sama-sama sampai. Beda-beda. yang sama hanya satu. Niat atau komitmen untuk sampai kantor. Itu yang Anda butuhkan untuk memulai dan menjalankan bisnis.

Penyakit yang semakin gw sadari dari peristiwa banjir hari ini, tidak sedikit orang yang fokus pada apa yang tidak bisa mereka lakukan. Wah kalo banjir di sini ngga bisa lewat dong. Wa kalo lewat sana ngga bisa jalan dong. Itu-itu saja yang dipikirkan. Fokusnya hanya pada hal yang tidak bisa dilakukan. Kenapa tidak fokus pada apa yang bisa dilakukan. Sama seperti membangun bisnis, jika Anda hanya fokus pada apa yang tidak bisa atau apa yang sulit, maka Anda hanya akan berhenti di situ. Gw beberapa kali bekerja sama dengan beberap teman untuk membangun sebuah bisnis. Dan ketika sudah menghadapi kesulitan sebagian dari kami fokus pada kesulitan. Bukan apada solusi dan jalan alternatif. Yang terjadi bisnis itu mandeg, tidak jalan dan kembali pada ide.

Berpikir alternatif bukan juga bertingkah nekat. Jika hujan deras dan banjir setinggin atap di depan rumah Anda, bukan berarti Anda nekat menerjang untuk mencapai kantor (tujuan). Berpikirlah apa yang Anda bisa buat saat itu. Menunggu hujan (rintangan) reda  bukan berarti  Anda berdiam diri. Menunggu hujan reda bisa berarti strategi Anda dalam mencapai tujuan. Yang terpenting adalah komitmen dan fokus pada apa yang Anda akan buat. Tidak selamanya hujan akan turun. Ada disaat hujan Akan reda. Tidak selamanya kemacetan di jalan membuat Anda terdiam selamanya di jalan. Ada saatnya macet itu akan terurai. Sama halnya dengan rintangan memulai bisnis, Ada saatnya rintangan itu akan "surut" dan saat itulah Anda bekerja dengan Cerdas. Si Men pernah bilang bekerjalah dengan cerdas bukan hanya menjadi pekerja keras. Jadilah pekerja Cerdas.

Salam Bro..

Senin, 07 Januari 2013

I'ts Krabby Patty not Hamburger (Strategi Membangun Pasar Melalui Persepsi)

Anda tahu makanan yang satu ini? Yup Hamburger atau dikenal juga dengan Burger. Roti bundar yang diisi dengan potongan daging sapi. Ditumpuk dengan selembar keju gurih. Ditambah dengan irisan tomat, mentimun atau bawang dan lembaran daun salada yang segar. Sebagai pelengkap, sering juga ditambahkan saus tomat, cabai atau mayones. Hmm..yummy...

Kali ini, gw tidak berbicara soal makanan. Sekalipun pagi ini, gw belum sarapan dan ngiler liat gambar di sebelah tulisan ini (hehhe). Gw tertarik dengan tulisan di bawah gambar Humberger atau burger itu. Ya, Kabby Patty.

Ada yang tidak tahu apa itu Krabby Patty? kalo ada yang tidak tahu gambar di atas. Gw kasih gambar  di samping kanan yang membuat Anda bisa menduga-duga. Kini Anda sudah tahu? Jika belum juga, cape deh... (hehhhe). Kabby patty merupakan humburger buatan spongebob di restoran Mr Krab. Kalo belum tau juga nonton saja filmnya. hehehe. Di sini gw juga ngga akan bahas film spongebob atau teman temannya. Gw hanya mau kasih tau kalau kemarin pas gw beli burger pinggir jalan seharga 5000 ada seorang bapak yang sedang menggendong anaknya dan berkata ,"ade mau Krabby Patty?"

What!!!! U kira yang lagi manggang roti itu Spongebob????No...He is DORAEMON!!! (Hahahah). Kidding. Walaupun pria penjual burger itu tambun dan mirip Doraemon.

Mendengar itu, gw lantas berpikir kenapa tidak ada yang menggunakan nama Krabby Patty dalam menjual burger. Semua penjual menuliskan kata BURGER di depan gerobak mereka (mulai sotoy). Padahal menurut analisa gw membuat branding suatu merek itu perlu waktu yang panjang dan memerlukan edukasi pasar yang cukup lama. Itu sebabnya iklan di media selalu diulang-ulang. Lain cerita jika nama tersebut sudah cukup melekat di pasar (emang permen karet melekat). Seperti kata Krabby Patty yang ada di film Spongebob.

Hampir setiap hari anak-anak menyaksikan spongebob (sotoy abis). Hal itu membuat anak anak mudah mengenal apa itu Krabby Patty. Gw pikir bukan hanya anak anak, orang dewasa juga. Kenapa orang dewasa juga? Karena sebagai orang tua yang baik harus mendampingi anaknya dalam menonton televisi. Bahkan di televisi di tampilkan kode BO atau Bimbingan Orang tua. Itu artinya orang tua wajib nonton serial anak anak. Jadi secara tidak langsung apa yang diketahui anak anak akan dipahami orang tua. Itu sebabnya banyak produk anak anak yang dibeli atas keinginan orang tuanya. (Makin Sotoy)

Jika brandingnya sudah dikenal maka akan memudahkan dalam penjualan. Orang bilang jika tak kenal maka tidak sayang. Rasanya ungkapan itu tepat juga jika diterapkan pada kebutuhan brand suatu produk. Jika orang tidak kenal maka orang pun tidak akan "sayang" pada produk tersebut. Kalau gw mau jualan burger, gw pasti pake nama itu, Krebby Petti (biar ngga mirip sama yang ada di film Spongebob. Nanti dibilang menjiplak. Padahal dikit... Hehehe). Sekali pasang orang dewasa apa lagi anak-anak pasti akan penasaran dengan Krebby Petti.

Menurut analisa gw, pasar itu memiliki masa jenuh dalam melihat suatu produk. Mereka "bosan" dengan Burger tapi belum tentu denga Krebby Petti atau Krabby Patty. Bedanya hanya pada persepsi. Itu yang dibutuhkan pasar. Contoh kenapa persepsi itu penting dan bisa mempengaruhi konsumen. Misalnya, Anda dan keluarga makan bersama di restoran dan memilih menu seharga 100.000 untuk berempat. Setelah selesai, Anda  membayar makanan seharga 100.000 rupiah ditambah dengan pajak 10% plus service 5& menjadi 115.000 rupiah, Anda akan merasa bahwa ada biaya yang harus Anda keluarkan. Buat gw hal itu terasa merugikan.

Lain halnya jika Anda melihat menu makanan dengan harga 120.000 untuk berempat. Dan Anda membayar hanya 120.000. Anda akan berpikir bahwa wah murah juga 120.000 untuk berempat, tanpa pajak dan service pula. Lihat perbedaannya? Persepsi Anda akan mengatakan bahwa 120.000 itu murah karena tanpa pajak dan service. Walaupun secara nominal lebih murah 115.000. Tapi persepsi berkata lain. Sama halnya dengan Krabby Patty dan Humburger. Orang bosan dengan Humburger tapi belum tentu dengan Krabby Patty. It's About Perception.

Salam Bro..