Label

Senin, 11 Februari 2013

Salah Satu Kuci Membangun Kesuksesan

Selamat pagi, kali ini gw mau nulis hal yang menginspirasi gw kemarin malam, saat gw nongkrong di angkirangan dengan seorang supir. Pembicaraan kami memang tanpa arah dan terkesan hanya sebagai teman menyeruput secangkir kopi hangat dan pisang goreng panas di malam hari yang dingin. 
Perjumpaan gw dengannya memang suatu kebetulan. Kenal sebelumnya pun tidak. Hanya saja obrolan kami seperti orang yang sudah saling mengenal. Mungkin, itulah bedanya ketika menikmati kopi di cafe mahal dengan warung kopi pinggir jalan. Di cafe, kebanyakan orang sibuk dengan gadget dan urusannya masing-masing. Sedangkan di warung kopi, semua orang meleburkan masalah dan cerita-ceritanya dalam larutan adukan kopi. 

Hal yang menarik dari obrolan ngelantur malam itu adalah, ketika si supir mengomentari bagaimana suatu produk baru seharunya dipromosikan. Perhatian gw semakin tertarik dengan pembicaraan itu, karena hal itu keluar dari mulut seorang supir yang mungkin secara latar belakan pekerjaannya tidak langsung bersinggungan dengan ilmu marketing. 

Gw mencoba untuk mendengarkan dan membiarkannya terus berceloteh. Sang supir pun terus berpendapat dengan gayanya yang ceplas-ceplos. Ia mengatakan bahwa produk baru itu seharunya di boom, agar semua orang mengenal dulu dan kelak konsumen akan mampu membandingkan produk mana yang akan  dipilih. Ia pun berceloteh bagaiman suatu produk bisa dikenal di daerah dengan biaya yang lebih kecil dan target yang lebih tepat. 

Gw tertawa kecil sekaligus tergelitik dengan perkataan supir itu. Pasalnya hal tersebut tidak pernah terucap oleh manager marketing di tempat gw  bekerja saat ini. Ironi. Sudah beberapa tahun berjalan, tapi bisnis di tempat ku belum juga berkembang. Bahkan hal yang diucapkan oleh supir itu pun tidak pernah dibuat atau bahkan dilontarkan di forum rapat. 

Mungkin analogi yang tepat untuk mengambarkan hal ini adalah seperti suasana di cafe mahal yang berkelas. Di mana, semua orang duduk sendiri atau dengan temannya saja, tanpa mengenal atau pun ngobrol satu sama lain. Semua orang seakan sibuk dengan pemikirannya dan kesibukannya sendiri. Tidak membuka diri untuk ngobrol dengan orang baru dan mencari ide baru. 

Itu pula lah yang mungkin dialami oleh kebayakan orang saat bekerja. Mereka sibuk dengan pemikiran dan ide-idenya sendiri.Sehingga ketika menghadapi masalah, mereka terlalu yakin dengan putusannya sendiri dan tidak mencoba terbuka dengan masukan orang lain.  Padahal jika mau terbuka, mendengarkan dan membiarkan orang lain berbicara, pastinya akan ada banyak masukan dan hal menarik yang bisa digali. 

Sama seperti obrolan di warung kopi kemarin malam. Seorang supir berbicara soal strategi penjualan dengan gayanya tanpa ada istilah-istilah akademi yang sebatas teks book. Siapa menyangka. Seandainya malam itu gw tidak ngopi, mungkin hal ini tidak pernah gw tuliskan. Dan gw semakin yakin dengan istilah "Down to Earth". Hal itu gw buktikan sendiri malam kemarin. Sebagai kelas berkerah putih, sering kali kita sombong dan tidak mau mendengarkan mereka yang tidak bergelar dan bekerja serabutan. Padahal, merekalah yang seringkali melihat situasi di lapangan dan bukan dibalik meja dan dinding kaca. Memandang semua hal dari atas gedung tinggi. Tanpa pernah berada di bawah.

Pengalaman semalam pun mengispirasi gw bagaimana seorang pemimpin itu seharusnya. Memiliki jabatan tinggi bukan berarti anti bergaul dengan bawahan, office boy, supir, atau bahkan penjual sayur di pasar. Dari mereka bisa juga kita mendapatkan masukan dan ide. Seorang pemimpin yang tidak mau terbuka dan mendengarkan, hanya akan menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, bukan untuk perusahaannya. Hal kemarin malam pun semakin membuat gw yakin bahwa jabatan dan title akademik segambreng bukan modal satu-satunya untuk bisa sukses. Karena salah satu kunci untuk bisa sukses adalah mendengarkan dan terbuka dengan masukan orang lain, sekalipun ia adalah seorang supir.

Salam Bro.


sumber gambar: http://media.viva.co.id/thumbs2/2011/11/04/130181_warung-angkringan_663_382.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar