Label

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Pemberitaan Lebay hanya Strategi Marketing Dunia Media?

Masih hangat seputar pemberitaan banjir di Jakarta yang menurut pemberitaan media disebut sebagai kelumpuhan Jakarta. Hampir setiap hari, pemberitaan Banjir Jakarta masih terus menghiasi media massa. Bahkan seperti pada tulisan gw sebelumya  yang berjudul Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis tidak sedikit orang yang akhirnya balik kanan dan tidak jadi berangkat ke kantor ketika melihat pemberitaan soal banjir di Jakarta. Bahkan teman dan kerabat gw di luar kota pun turut khawatir dan menayakan keadaan gw di Jakarta. Mereka mengira bahwa daerah-daerah di Jakarta benar-benar ‘tenggelam’.

Gw rasa kekhawatiran mereka terbangun dari pemberitaan media soal banjir di Jakarta. Bagaimana tidak khawatir jika yang menjadi sudut pandang dari para teman-teman media hanya diseputar permasalahannya saja. Hanya sedikit yang mencoba melihat dari sisi lain. Menurut gw, isi dari pemberitaannya pun itu itu saja. Selalu di seputar tinggi genangan air, berapa besar curah hujan, kondisi para pengungsi, ricuh soal pembagian makanan atau obat-obatan, dan sekitar hal-hal seperti itu. Semua pemberitaan itu membangun image bahwa Jakarta memang benar-benar ‘tenggelam’ dan tidak ada harapan lain dari kondisi tersebut.

Dalam tulisan ini gw bukan ingin mengkesampingkan  nilai berita yang masih ada terkandung dalam setiap pemberitaan macam itu. Dan tidak juga mengkesampingkan bahwa berita macam itu tidak penting. Informasi seperti itu tentu masih dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk tau apa yang masih terjadi di lokasi. Namun, ketika pemberitaan itu mulai semakin lebay (berlebihan) itu yang menurut gw kurang tepat di sampaikan pada masyarakat. Masyarakat dijejali kekhawatiran dan permasalahan. Bukan pengharapan dan jalan keluar. Media seakan ‘memanfaatkan’ banjir sebagai alat marketing mereka dalam meningkatkan rating atau pun penonton. Konsep Bad News is Good News terus di bawa oleh media semacam itu dan seakan ditambah lagi menjadi Bad News is Good Marketing and News.

Ada dua hal yang menurut gw bisa dilihat dari kondisi ini. Pertama, Media sering kali terfokus pada Bad News dalam pencarian angle berita. Kedua Pemberitaan Bad News itu sering kali semakin di-lebay-lebay-kan agar terkesan  “menjual”. Menanggapi hal pertama, gw merasa miris jika bad news yang selalu menjadi sudut pandangan pemberitaan. Saat terjadi banjir besar di sekitar Jalan Sudirman terjadi, sebenarnya banyak jalan yang juga tidak digenangi banjir dan bisa jadi jalur alternatif bagi pengguna jalan. Tapi tidak banyak media yang mengambil angle semcam itu. Banyak media malah fokus pada titik banjir, penderitaan korban serta kerugiaan yang dialami.

Kedua,Mengapa pemberitaan itu seakan menjadi alat marketing? Seperti halnya sebuah iklan di media yang membuat sebuah produk atau jasa menjadi lebih “Wah” dari aslinya, begitulah berita lebay yang sering ditampilkan. Banjir yang ada tahun ini memang diprediksikan akan lebih besar dampaknya dari banjir yang terjaid 2007. Tapi rasanya lebay jika pemberitaan lima tahunan ini hanya itu-itu saja yang disorot. Kasihan publik yang menyaksikan pemberitaan tersebut. Seperti dicekoki iklan yang luar biasa namun ketika melihat aslinya tidak “Wah” seperti yang diiklankan.

Menanggapi pemberitaan lebay yang terkesan hanya sebagai alat marketing ini, gw bukan bermaksud menghakimi. Ini hanya sekadar opini gw dalam melihat pemberitaan yang ada seputar banjir agar masyarakat tidak ikut ikutan lebay dalam mensikapi masalah yang ada dan bisa menjadi pemirsa yang cerdas.
Salam Bro

Kamis, 17 Januari 2013

Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis

Hari ini hampir semua pemberitaan di Ibu kota dipenuhi dengan persoalan banjir. Sejak tadi pagi, soal banjir ini sudah ramai di mana-mana. Mulai dari obrolan orang yang belum berangkat ke kantor dengan alasan banjir, jejaring sosial yang dipenuhi dengan foto dan cuap-cuap banjir, hingga media berita televisi yang super heboh dengan banjir. Sepertinya tidak habis-habisnya soal banjir hari ini dibicarakan.

Dari pengamatan pandangan mata, tidak sedikit dari para pekerja yang akhirnya memutuskan untuk pulang lagi karena banjir. Bahkan tidak sedikit juga yang terpengaruh pada berita di sana-sini dan akhirnya memilih untuk tidak berangkat kerja. Kesempatan memang. Kapan lagi bisa tidak masuk kerja jika bukan saat banjir di mana-mana seperti ini.

Kali ini, gw bukan mau ngobrol soal banjir. Tapi peristiwa hari ini, menarik buat gw. Kebanyakan orang fokus sama permasalahan banjir hari ini. Padahal, pas gw lewat beberapa tempat yang tadinya dibicarakan orang,  sudah tidak banjir lagi. Pemberitaan yang ada pun membuat orang terpusat pada masalah banjir saja. Orang tidak diajak untuk berpikir alternatif atau mencari cara yang terbaik untuk bisa mensikapi banjir. Pada akhirnya orang hanya berasumsi pada pikiran dia dan terapaku pada kesulitan yang ada.

Poin itulah yang menarik buat gw. Kenapa? Gw melihat hal itu sama seperti orang yang akan memulai suatu usaha atau bisnis. Tidak sedikit yang gw kenal, meyerah saat baru memulai bisnis. Bahkan baru memikirkannya saja sudah mulai menyerah. Tidak beda jauh bukan, dengan orang yang baru memikirkan betapa macet dan bajirnya jalanan padahal mereka masih di rumah dan memutuskan tidak berangkat kerja.

Ada tiga hal yang harus dimiliki dalam memulai suatu bisnis. Pertama adalah ide atau konsep. Ini merupakan hal awal yang harus dimiliki jika hendak memiliki suatu usaha. Biasanya di tahap ini, orang masih sangat bersemgat. Apalagi ide itu sering kali datang dari mana saja. Dan terkadang ada yang berhenti ditahap ide karena terlalu banyak memikirkan ide. Ini bukan berarti Anda tidak boleh memilki ide banyak. Sangat boleh dan harus. Dengan banyak ide Anda bisa memilih mana yang paling bisa Anda jalankan pertama. Tapi dengan catatan. Jangan terlalu sibuk pada ide Anda. karena bukan di sini akhir bisnis Anda.

Kedua, Bisnis Plan. Ini tahapan yang mulai berbobot dari pada cuap-cuap soal Ide. Anda diminta untuk mulai menuliskan dan menurunkan ide yang ada di benak Anda ke dalam suatu media. Bisa berbagai macam media untuk bisa menuangkan ide Anda. Tujuannya adalah agar bukan hanya Anda saja yang memahami Ide tersebut tapi orang lain juga. Dengan orang lain bisa memahami apa yang Anda akan buat, maka ide bisnis Anda sudah semakin menginjak bumi atau sudah mulai mendarat. Tapi jika Ide Anda masih dirasa oleh orang lain membingungkan dan tidak jelas, Anda perlu merenungkan kembali ide tersebut dan membuat ide tersebut menjadi lebih real (bisa diwujudkan). Real di sini bukan berarti Anda tidak bisa membuat hal mustahil atau belum pernah orang pikirkan. Tapi lebih pada bagaimana Anda menyakinkan diri Anda sendiri dan Anda tahu secara nyata/real apa yang akan Anda buat pertama kali. Gw selalu kagum dengan Thomas Alva Edison yang membuat nyata apa yang ia pikirkan walaupun orang lain tidak yakin dengan apa yang dia buat. Itulah yang dimaksud dengan real pada tahap kedua ini.

Ketiga adalah modal. Ini yang paling jitu membuat Anda mundur dan pulang lagi ke rumah. Sama seperti mendengar soal banjir lewat jejaring sosial atau pemberitaan lain yang membuat Anda tidak berangkat ke tempat kerja. Ketika mendengar bahwa Anda harus memiliki sejumlah modal maka tidak sedikit yang akhirnya tidak lagi bergerak dan hanya menjadi penonton "banjir" atau bahkan tidak bergerak sama sekali dan memilih diam. Parahnya, sebelum memasuki tahap pertama dan kedua, kita sering kali melompat dan melihat tahap ketiga. Sehingga sudah mundur duluan sebelum memulai tahap pertama dan kedua. Lalu apa yang harus dilakukan?

Lagi-lagi sama seperti menghadapi banjir di jalanan. Jika Anda tau tujuan Anda (tahap satu) dan tau arah Anda (tahap dua) yang bisa Anda buat adalah mencari jalan Alternatif. Sekalipun itu harus berputar lebih jauh, tapi Anda bergerak menuju tujuan dan arah akhir Anda. Berputar atau berjalan lebih jauh tapi bisa membuat Anda sampai tujuan, jauh lebih baik dari pada Anda menjadi penonton banjir dan tidak berbuat apa-apa. Atau Anda tidak bergerak sama sekali dari rumah. Ada seribu satu cara bagaimana Anda bisa sampai ketujuan jika Anda memilki komitmen untuk memulai bisnis. Sama seperti komitmen Anda untuk mencapai kantor. Caranya bagaimana? Anda sendiri yang tahu. Setiap orang memiliki jalan dan cara yang berbeda. Gw sampai kantor lewat jalan A. Temen gw sampai kantor lewat jalan B dengan sedikit macet. Tapi sama-sama sampai. Beda-beda. yang sama hanya satu. Niat atau komitmen untuk sampai kantor. Itu yang Anda butuhkan untuk memulai dan menjalankan bisnis.

Penyakit yang semakin gw sadari dari peristiwa banjir hari ini, tidak sedikit orang yang fokus pada apa yang tidak bisa mereka lakukan. Wah kalo banjir di sini ngga bisa lewat dong. Wa kalo lewat sana ngga bisa jalan dong. Itu-itu saja yang dipikirkan. Fokusnya hanya pada hal yang tidak bisa dilakukan. Kenapa tidak fokus pada apa yang bisa dilakukan. Sama seperti membangun bisnis, jika Anda hanya fokus pada apa yang tidak bisa atau apa yang sulit, maka Anda hanya akan berhenti di situ. Gw beberapa kali bekerja sama dengan beberap teman untuk membangun sebuah bisnis. Dan ketika sudah menghadapi kesulitan sebagian dari kami fokus pada kesulitan. Bukan apada solusi dan jalan alternatif. Yang terjadi bisnis itu mandeg, tidak jalan dan kembali pada ide.

Berpikir alternatif bukan juga bertingkah nekat. Jika hujan deras dan banjir setinggin atap di depan rumah Anda, bukan berarti Anda nekat menerjang untuk mencapai kantor (tujuan). Berpikirlah apa yang Anda bisa buat saat itu. Menunggu hujan (rintangan) reda  bukan berarti  Anda berdiam diri. Menunggu hujan reda bisa berarti strategi Anda dalam mencapai tujuan. Yang terpenting adalah komitmen dan fokus pada apa yang Anda akan buat. Tidak selamanya hujan akan turun. Ada disaat hujan Akan reda. Tidak selamanya kemacetan di jalan membuat Anda terdiam selamanya di jalan. Ada saatnya macet itu akan terurai. Sama halnya dengan rintangan memulai bisnis, Ada saatnya rintangan itu akan "surut" dan saat itulah Anda bekerja dengan Cerdas. Si Men pernah bilang bekerjalah dengan cerdas bukan hanya menjadi pekerja keras. Jadilah pekerja Cerdas.

Salam Bro..

Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?

Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?

                Mayoritas headline media cetak ataupun elektronik berskala nasional maupun lokal dalam beberapa hari terakhir menyuguhkan wajah Jakarta yang berhias air. Yep banjir dimana-mana jek. Jalan protokol, jalan kampung, jalan tikus, daerah bergengsi yang harga tanahnya per meter bisa buat beli es dungdung lima ton, sampai tanah yang status tanahnya gak jelas, gak luput dari si air yang warnanya coklat susu ini jek.
                Efek dari banjir, banyak pihak yang bilang bisa mengganggu jalannya perputaran roda ekonomi. Tergantung si ngeliatnya dari mana dulu. dari satu sisi mah banjir emang bisa ganggu pola jam kerja para pekerja. Alhasil, banyak pekerja yang menjadikan alasan BANJIR PAK, rumah saya kelelep,  jalanan gak bisa dilewati tingginya sedada. Angkotnya mogok, keretanya mundur lagi rel gak bisa dilewati, bla-blalalalblabka, sebagai senjata untuk tidak masuk kerja.
Bagi yang emang dasarnya males juga bisa aja ikut-ikutan menjadikan momen ini sebagai kesempatan BERHARGA untuk tidak menempelkan jarinya ke finger print absensi. Yeah enak ni bisa selimutan sampe puas.
Tapi kembali ke pokok persoalan, banjir memang bisa mengganggu rutinitas kerja dan usaha. Coba itung aja berapa banyak kerugian yang tercipta akibat perputaran uang tidak berjalan akibat lumpuhnya akses mobilitas orang maupun barang. Ngitungnya gimana? Ada yang tahu. Beda kepentingan, beda kerugian. Elo elo, gue gue. Individualis abis.
Bagi yang bingung mengukur kerugian yang dimaksud, bisa pakai cara gampang  mengukurnya dengan  melihat dari status atau foto yang seseorang tampilkan di Path, Twitter, Facebook. Dari hasil survei yang ane lakukan mayoritas semua memposting kekesalan mereka terhadap banjir, dan seperti biasa lagi-lagi yang disalahkan dalam hal ini adalah pemerintah. Bukannya sok suci, ada pepatah lama mengatakan bahwa introspeksi dulu dirimu jek sebelum menyalahkan orang lain.
Banjir emang katro, selain bisa menyebabkan kerugian materi, nyawa juga menjadi pertaruhannya jek. SERIUS!!!!! Yang namanya urusan nyawa bukan bahan becandaan Jek.
Tapi bagi beberapa orang banjir bisa aja membawa berkah. Tengok aja ojek gerobak yang dipakai buat menjadi kendaraan penyelamat bagi motor-motor atau orang yang ingin melewati lautan banjir dadakan. Tengok aja orang-orang yang menyediakan lap atau busi buat menolong orang yang motornya mati. Pertolongan yang dimaksud si tetep aja dikenakan biaya.
Lagi-lagi tanpa bermaksud bercanda soal BENCANA BANJIR, mungkin ada baiknya setiap orang merenung dan segera melakukan tindakan nyata untuk mencegah banjir. JANGAN CUMA PASANG STATUS terus lo asik FOTO-FOTO BANJIR. Bayangkan jika tiba-tiba Indonesia di landa badai salju, apa kita siap menerimanya. Amit-amit dah. ane sendiri juga gak tau harus gmn biar gak banjir jakarta.
SalaMen