Membangun sebuah bisnis atau usaha, bukanlah soal mempersiapkan modal semata. Tidak sedikit orang, khususnya yang pernah gw temui memandang bahwa untuk memulai bisnis yang paling penting dan harus ada pertama kali adalah modal (dana). Gw bukan tidak setuju dengan pendapat tersebut. Tapi, buat gw yang hanya memiliki modal terbatas, atau bahkan bisa dibilang tidak punya modal, hal tersebut bukan hal yang harus jadi hambatan. Sayangnya, tidak banyak, orang-orang yang gw kenal berpikir seperti itu. Seperti yang tadi gw sebutkan sebelumnya, kebanyak dari mereka memandang modal itu utama.
Menurut gw kenapa modal itu bukan hal yang pertama, karena beberapa kali gw mencoba membangun usaha dan berujung gagal sekalipun modalnya sudah ada dan cukup matang. Yang lebih penting harus disiapkan adalah mental. Menurut gw itu yang penting dan tidak mudah disiapkan. Mental tidak serta merta jadi setelah modal ada atau usaha berjalan.
Kenapa mental itu penting. Pengalaman gagal dan tertipu dalam membangun usaha membuat gw semakin sadar bahwa hal tersebut ada dalam kehidupan. Tidak semua orang itu baik dan bisa dipercaya. Sekalipun itu orang terdekat atau bahkan teman dekat. Pengalaman yang gw alami menunjukan bahwa terkadang, orang-orang yang cukup kita kenal dan bahkan dekatlah yang justru membuat usaha gw berantakan. Pendapat gw ini bukan bermaksud mengeneralkan bahwa semua orang dekat itu tidak bisa dipercaya. Banyak pula kisah atau pengalaman kesuksesan yang dibangun atas dasar persahabatan atau bahkan keluarga Gw hanya ingin menegaskan pada bahwa ada resiko kegagal dan penipuan di dalam membangun usaha. Dan ketika itu terjadi, yang harus disiapkan adalah mental. Bukan modal.
Mental bukan hanya disiapkan ketika mendapatkan hal buruk seperti itu, tapi juga harus disiapkan sepanjang menjalankan bisnis. Hal tersebut gw temukan ketika gw mendapat kan proyek yang lumayan besar dari perusahaan swasta untuk menyediakan sejulah barang yang mereka pesan. Proses sudah kami jalani mulai dari proses pendisainan hingga proses pencarian vendor dan bahan. Hingga akhirnya disepakati bahwa projek tersebut disetujui dan tinggal menunggu pengiriman Down Payment (DP). Betapa berharap dan senangnya gw saat itu. Hingga tiba waktu yang ditentukan ternyata DP juga belum turun. Gw mulai cemas dan khawatir. Saat gw konfirmasi ternyata ada penundaan sebentar. Sayangnya, dipihak lain, vendor yang bekerja sama dengan kami juga tidak lagi bisa menunggu. Alhasil Gw mencoba mencari alternatif dan mencari bantuan sana sini. Hasilnya nihil. Tidak banyak yang bisa membantu. Hingga detik-detik terakhir akhirnya projek itu gagal di hari yang sama ketika projek itu akan di DP.
Lemas, kecewa, itu pasti. Harapan akan mendapat untung, berakhir butung. Tidak banyak yang bisa gw lakukan. Projek itu sudah gagal. Di sana gw semakin menyadari bahwa modal bukan awal yang harus disiapkan. Modal itu penting, tapi bukan yang utama. Mental justru yang paling penting. Hal itu yang harus dimiliki oleh orang yang akan membangun usaha. Dan kegagal seperti ini, yang juga akan mengasah mental tersebut. Jadi, dari pengalaman sederhana ini, gw berharap akan banyak calon-calon pengusaha hebat seperti kami (hehhe. narsis) yang lebih melihat bahwa memangun usaha atau bisnis bukan hanya sekadar modal. Yooi?
Salam Bro
Minggu, 24 Februari 2013
Senin, 11 Februari 2013
Salah Satu Kuci Membangun Kesuksesan
Selamat pagi, kali ini gw mau nulis hal yang menginspirasi gw kemarin malam, saat gw nongkrong di angkirangan dengan seorang supir. Pembicaraan kami memang tanpa arah dan terkesan hanya sebagai teman menyeruput secangkir kopi hangat dan pisang goreng panas di malam hari yang dingin.
Perjumpaan gw dengannya memang suatu kebetulan. Kenal sebelumnya pun tidak. Hanya saja obrolan kami seperti orang yang sudah saling mengenal. Mungkin, itulah bedanya ketika menikmati kopi di cafe mahal dengan warung kopi pinggir jalan. Di cafe, kebanyakan orang sibuk dengan gadget dan urusannya masing-masing. Sedangkan di warung kopi, semua orang meleburkan masalah dan cerita-ceritanya dalam larutan adukan kopi.
Hal yang menarik dari obrolan ngelantur malam itu adalah, ketika si supir mengomentari bagaimana suatu produk baru seharunya dipromosikan. Perhatian gw semakin tertarik dengan pembicaraan itu, karena hal itu keluar dari mulut seorang supir yang mungkin secara latar belakan pekerjaannya tidak langsung bersinggungan dengan ilmu marketing.
Gw mencoba untuk mendengarkan dan membiarkannya terus berceloteh. Sang supir pun terus berpendapat dengan gayanya yang ceplas-ceplos. Ia mengatakan bahwa produk baru itu seharunya di boom, agar semua orang mengenal dulu dan kelak konsumen akan mampu membandingkan produk mana yang akan dipilih. Ia pun berceloteh bagaiman suatu produk bisa dikenal di daerah dengan biaya yang lebih kecil dan target yang lebih tepat.
Gw tertawa kecil sekaligus tergelitik dengan perkataan supir itu. Pasalnya hal tersebut tidak pernah terucap oleh manager marketing di tempat gw bekerja saat ini. Ironi. Sudah beberapa tahun berjalan, tapi bisnis di tempat ku belum juga berkembang. Bahkan hal yang diucapkan oleh supir itu pun tidak pernah dibuat atau bahkan dilontarkan di forum rapat.
Mungkin analogi yang tepat untuk mengambarkan hal ini adalah seperti suasana di cafe mahal yang berkelas. Di mana, semua orang duduk sendiri atau dengan temannya saja, tanpa mengenal atau pun ngobrol satu sama lain. Semua orang seakan sibuk dengan pemikirannya dan kesibukannya sendiri. Tidak membuka diri untuk ngobrol dengan orang baru dan mencari ide baru.
Itu pula lah yang mungkin dialami oleh kebayakan orang saat bekerja. Mereka sibuk dengan pemikiran dan ide-idenya sendiri.Sehingga ketika menghadapi masalah, mereka terlalu yakin dengan putusannya sendiri dan tidak mencoba terbuka dengan masukan orang lain. Padahal jika mau terbuka, mendengarkan dan membiarkan orang lain berbicara, pastinya akan ada banyak masukan dan hal menarik yang bisa digali.
Sama seperti obrolan di warung kopi kemarin malam. Seorang supir berbicara soal strategi penjualan dengan gayanya tanpa ada istilah-istilah akademi yang sebatas teks book. Siapa menyangka. Seandainya malam itu gw tidak ngopi, mungkin hal ini tidak pernah gw tuliskan. Dan gw semakin yakin dengan istilah "Down to Earth". Hal itu gw buktikan sendiri malam kemarin. Sebagai kelas berkerah putih, sering kali kita sombong dan tidak mau mendengarkan mereka yang tidak bergelar dan bekerja serabutan. Padahal, merekalah yang seringkali melihat situasi di lapangan dan bukan dibalik meja dan dinding kaca. Memandang semua hal dari atas gedung tinggi. Tanpa pernah berada di bawah.
Pengalaman semalam pun mengispirasi gw bagaimana seorang pemimpin itu seharusnya. Memiliki jabatan tinggi bukan berarti anti bergaul dengan bawahan, office boy, supir, atau bahkan penjual sayur di pasar. Dari mereka bisa juga kita mendapatkan masukan dan ide. Seorang pemimpin yang tidak mau terbuka dan mendengarkan, hanya akan menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, bukan untuk perusahaannya. Hal kemarin malam pun semakin membuat gw yakin bahwa jabatan dan title akademik segambreng bukan modal satu-satunya untuk bisa sukses. Karena salah satu kunci untuk bisa sukses adalah mendengarkan dan terbuka dengan masukan orang lain, sekalipun ia adalah seorang supir.
Salam Bro.
sumber gambar: http://media.viva.co.id/thumbs2/2011/11/04/130181_warung-angkringan_663_382.jpg
Minggu, 20 Januari 2013
Pemberitaan Lebay hanya Strategi Marketing Dunia Media?
Masih hangat seputar pemberitaan banjir di Jakarta
yang menurut pemberitaan media disebut sebagai kelumpuhan Jakarta.
Hampir setiap hari, pemberitaan Banjir Jakarta masih terus menghiasi
media massa. Bahkan seperti pada tulisan gw sebelumya yang berjudul
Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis tidak sedikit orang yang akhirnya
balik kanan dan tidak jadi berangkat ke kantor ketika melihat
pemberitaan soal banjir di Jakarta. Bahkan teman dan kerabat gw di luar
kota pun turut khawatir dan menayakan keadaan gw di Jakarta. Mereka
mengira bahwa daerah-daerah di Jakarta benar-benar ‘tenggelam’.
Gw rasa kekhawatiran mereka terbangun dari pemberitaan media soal banjir di Jakarta. Bagaimana tidak khawatir jika yang menjadi sudut pandang dari para teman-teman media hanya diseputar permasalahannya saja. Hanya sedikit yang mencoba melihat dari sisi lain. Menurut gw, isi dari pemberitaannya pun itu itu saja. Selalu di seputar tinggi genangan air, berapa besar curah hujan, kondisi para pengungsi, ricuh soal pembagian makanan atau obat-obatan, dan sekitar hal-hal seperti itu. Semua pemberitaan itu membangun image bahwa Jakarta memang benar-benar ‘tenggelam’ dan tidak ada harapan lain dari kondisi tersebut.
Dalam tulisan ini gw bukan ingin mengkesampingkan nilai berita yang masih ada terkandung dalam setiap pemberitaan macam itu. Dan tidak juga mengkesampingkan bahwa berita macam itu tidak penting. Informasi seperti itu tentu masih dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk tau apa yang masih terjadi di lokasi. Namun, ketika pemberitaan itu mulai semakin lebay (berlebihan) itu yang menurut gw kurang tepat di sampaikan pada masyarakat. Masyarakat dijejali kekhawatiran dan permasalahan. Bukan pengharapan dan jalan keluar. Media seakan ‘memanfaatkan’ banjir sebagai alat marketing mereka dalam meningkatkan rating atau pun penonton. Konsep Bad News is Good News terus di bawa oleh media semacam itu dan seakan ditambah lagi menjadi Bad News is Good Marketing and News.
Ada dua hal yang menurut gw bisa dilihat dari kondisi ini. Pertama, Media sering kali terfokus pada Bad News dalam pencarian angle berita. Kedua Pemberitaan Bad News itu sering kali semakin di-lebay-lebay-kan agar terkesan “menjual”. Menanggapi hal pertama, gw merasa miris jika bad news yang selalu menjadi sudut pandangan pemberitaan. Saat terjadi banjir besar di sekitar Jalan Sudirman terjadi, sebenarnya banyak jalan yang juga tidak digenangi banjir dan bisa jadi jalur alternatif bagi pengguna jalan. Tapi tidak banyak media yang mengambil angle semcam itu. Banyak media malah fokus pada titik banjir, penderitaan korban serta kerugiaan yang dialami.
Kedua,Mengapa pemberitaan itu seakan menjadi alat marketing? Seperti halnya sebuah iklan di media yang membuat sebuah produk atau jasa menjadi lebih “Wah” dari aslinya, begitulah berita lebay yang sering ditampilkan. Banjir yang ada tahun ini memang diprediksikan akan lebih besar dampaknya dari banjir yang terjaid 2007. Tapi rasanya lebay jika pemberitaan lima tahunan ini hanya itu-itu saja yang disorot. Kasihan publik yang menyaksikan pemberitaan tersebut. Seperti dicekoki iklan yang luar biasa namun ketika melihat aslinya tidak “Wah” seperti yang diiklankan.
Menanggapi pemberitaan lebay yang terkesan hanya sebagai alat marketing ini, gw bukan bermaksud menghakimi. Ini hanya sekadar opini gw dalam melihat pemberitaan yang ada seputar banjir agar masyarakat tidak ikut ikutan lebay dalam mensikapi masalah yang ada dan bisa menjadi pemirsa yang cerdas.
Salam Bro
Gw rasa kekhawatiran mereka terbangun dari pemberitaan media soal banjir di Jakarta. Bagaimana tidak khawatir jika yang menjadi sudut pandang dari para teman-teman media hanya diseputar permasalahannya saja. Hanya sedikit yang mencoba melihat dari sisi lain. Menurut gw, isi dari pemberitaannya pun itu itu saja. Selalu di seputar tinggi genangan air, berapa besar curah hujan, kondisi para pengungsi, ricuh soal pembagian makanan atau obat-obatan, dan sekitar hal-hal seperti itu. Semua pemberitaan itu membangun image bahwa Jakarta memang benar-benar ‘tenggelam’ dan tidak ada harapan lain dari kondisi tersebut.
Dalam tulisan ini gw bukan ingin mengkesampingkan nilai berita yang masih ada terkandung dalam setiap pemberitaan macam itu. Dan tidak juga mengkesampingkan bahwa berita macam itu tidak penting. Informasi seperti itu tentu masih dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk tau apa yang masih terjadi di lokasi. Namun, ketika pemberitaan itu mulai semakin lebay (berlebihan) itu yang menurut gw kurang tepat di sampaikan pada masyarakat. Masyarakat dijejali kekhawatiran dan permasalahan. Bukan pengharapan dan jalan keluar. Media seakan ‘memanfaatkan’ banjir sebagai alat marketing mereka dalam meningkatkan rating atau pun penonton. Konsep Bad News is Good News terus di bawa oleh media semacam itu dan seakan ditambah lagi menjadi Bad News is Good Marketing and News.
Ada dua hal yang menurut gw bisa dilihat dari kondisi ini. Pertama, Media sering kali terfokus pada Bad News dalam pencarian angle berita. Kedua Pemberitaan Bad News itu sering kali semakin di-lebay-lebay-kan agar terkesan “menjual”. Menanggapi hal pertama, gw merasa miris jika bad news yang selalu menjadi sudut pandangan pemberitaan. Saat terjadi banjir besar di sekitar Jalan Sudirman terjadi, sebenarnya banyak jalan yang juga tidak digenangi banjir dan bisa jadi jalur alternatif bagi pengguna jalan. Tapi tidak banyak media yang mengambil angle semcam itu. Banyak media malah fokus pada titik banjir, penderitaan korban serta kerugiaan yang dialami.
Kedua,Mengapa pemberitaan itu seakan menjadi alat marketing? Seperti halnya sebuah iklan di media yang membuat sebuah produk atau jasa menjadi lebih “Wah” dari aslinya, begitulah berita lebay yang sering ditampilkan. Banjir yang ada tahun ini memang diprediksikan akan lebih besar dampaknya dari banjir yang terjaid 2007. Tapi rasanya lebay jika pemberitaan lima tahunan ini hanya itu-itu saja yang disorot. Kasihan publik yang menyaksikan pemberitaan tersebut. Seperti dicekoki iklan yang luar biasa namun ketika melihat aslinya tidak “Wah” seperti yang diiklankan.
Menanggapi pemberitaan lebay yang terkesan hanya sebagai alat marketing ini, gw bukan bermaksud menghakimi. Ini hanya sekadar opini gw dalam melihat pemberitaan yang ada seputar banjir agar masyarakat tidak ikut ikutan lebay dalam mensikapi masalah yang ada dan bisa menjadi pemirsa yang cerdas.
Salam Bro
Kamis, 17 Januari 2013
Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis
Hari ini hampir semua pemberitaan di Ibu kota dipenuhi dengan persoalan banjir. Sejak tadi pagi, soal banjir ini sudah ramai di mana-mana. Mulai dari obrolan orang yang belum berangkat ke kantor dengan alasan banjir, jejaring sosial yang dipenuhi dengan foto dan cuap-cuap banjir, hingga media berita televisi yang super heboh dengan banjir. Sepertinya tidak habis-habisnya soal banjir hari ini dibicarakan.
Dari pengamatan pandangan mata, tidak sedikit dari para pekerja yang akhirnya memutuskan untuk pulang lagi karena banjir. Bahkan tidak sedikit juga yang terpengaruh pada berita di sana-sini dan akhirnya memilih untuk tidak berangkat kerja. Kesempatan memang. Kapan lagi bisa tidak masuk kerja jika bukan saat banjir di mana-mana seperti ini.
Kali ini, gw bukan mau ngobrol soal banjir. Tapi peristiwa hari ini, menarik buat gw. Kebanyakan orang fokus sama permasalahan banjir hari ini. Padahal, pas gw lewat beberapa tempat yang tadinya dibicarakan orang, sudah tidak banjir lagi. Pemberitaan yang ada pun membuat orang terpusat pada masalah banjir saja. Orang tidak diajak untuk berpikir alternatif atau mencari cara yang terbaik untuk bisa mensikapi banjir. Pada akhirnya orang hanya berasumsi pada pikiran dia dan terapaku pada kesulitan yang ada.
Poin itulah yang menarik buat gw. Kenapa? Gw melihat hal itu sama seperti orang yang akan memulai suatu usaha atau bisnis. Tidak sedikit yang gw kenal, meyerah saat baru memulai bisnis. Bahkan baru memikirkannya saja sudah mulai menyerah. Tidak beda jauh bukan, dengan orang yang baru memikirkan betapa macet dan bajirnya jalanan padahal mereka masih di rumah dan memutuskan tidak berangkat kerja.
Ada tiga hal yang harus dimiliki dalam memulai suatu bisnis. Pertama adalah ide atau konsep. Ini merupakan hal awal yang harus dimiliki jika hendak memiliki suatu usaha. Biasanya di tahap ini, orang masih sangat bersemgat. Apalagi ide itu sering kali datang dari mana saja. Dan terkadang ada yang berhenti ditahap ide karena terlalu banyak memikirkan ide. Ini bukan berarti Anda tidak boleh memilki ide banyak. Sangat boleh dan harus. Dengan banyak ide Anda bisa memilih mana yang paling bisa Anda jalankan pertama. Tapi dengan catatan. Jangan terlalu sibuk pada ide Anda. karena bukan di sini akhir bisnis Anda.
Kedua, Bisnis Plan. Ini tahapan yang mulai berbobot dari pada cuap-cuap soal Ide. Anda diminta untuk mulai menuliskan dan menurunkan ide yang ada di benak Anda ke dalam suatu media. Bisa berbagai macam media untuk bisa menuangkan ide Anda. Tujuannya adalah agar bukan hanya Anda saja yang memahami Ide tersebut tapi orang lain juga. Dengan orang lain bisa memahami apa yang Anda akan buat, maka ide bisnis Anda sudah semakin menginjak bumi atau sudah mulai mendarat. Tapi jika Ide Anda masih dirasa oleh orang lain membingungkan dan tidak jelas, Anda perlu merenungkan kembali ide tersebut dan membuat ide tersebut menjadi lebih real (bisa diwujudkan). Real di sini bukan berarti Anda tidak bisa membuat hal mustahil atau belum pernah orang pikirkan. Tapi lebih pada bagaimana Anda menyakinkan diri Anda sendiri dan Anda tahu secara nyata/real apa yang akan Anda buat pertama kali. Gw selalu kagum dengan Thomas Alva Edison yang membuat nyata apa yang ia pikirkan walaupun orang lain tidak yakin dengan apa yang dia buat. Itulah yang dimaksud dengan real pada tahap kedua ini.
Ketiga adalah modal. Ini yang paling jitu membuat Anda mundur dan pulang lagi ke rumah. Sama seperti mendengar soal banjir lewat jejaring sosial atau pemberitaan lain yang membuat Anda tidak berangkat ke tempat kerja. Ketika mendengar bahwa Anda harus memiliki sejumlah modal maka tidak sedikit yang akhirnya tidak lagi bergerak dan hanya menjadi penonton "banjir" atau bahkan tidak bergerak sama sekali dan memilih diam. Parahnya, sebelum memasuki tahap pertama dan kedua, kita sering kali melompat dan melihat tahap ketiga. Sehingga sudah mundur duluan sebelum memulai tahap pertama dan kedua. Lalu apa yang harus dilakukan?
Lagi-lagi sama seperti menghadapi banjir di jalanan. Jika Anda tau tujuan Anda (tahap satu) dan tau arah Anda (tahap dua) yang bisa Anda buat adalah mencari jalan Alternatif. Sekalipun itu harus berputar lebih jauh, tapi Anda bergerak menuju tujuan dan arah akhir Anda. Berputar atau berjalan lebih jauh tapi bisa membuat Anda sampai tujuan, jauh lebih baik dari pada Anda menjadi penonton banjir dan tidak berbuat apa-apa. Atau Anda tidak bergerak sama sekali dari rumah. Ada seribu satu cara bagaimana Anda bisa sampai ketujuan jika Anda memilki komitmen untuk memulai bisnis. Sama seperti komitmen Anda untuk mencapai kantor. Caranya bagaimana? Anda sendiri yang tahu. Setiap orang memiliki jalan dan cara yang berbeda. Gw sampai kantor lewat jalan A. Temen gw sampai kantor lewat jalan B dengan sedikit macet. Tapi sama-sama sampai. Beda-beda. yang sama hanya satu. Niat atau komitmen untuk sampai kantor. Itu yang Anda butuhkan untuk memulai dan menjalankan bisnis.
Penyakit yang semakin gw sadari dari peristiwa banjir hari ini, tidak sedikit orang yang fokus pada apa yang tidak bisa mereka lakukan. Wah kalo banjir di sini ngga bisa lewat dong. Wa kalo lewat sana ngga bisa jalan dong. Itu-itu saja yang dipikirkan. Fokusnya hanya pada hal yang tidak bisa dilakukan. Kenapa tidak fokus pada apa yang bisa dilakukan. Sama seperti membangun bisnis, jika Anda hanya fokus pada apa yang tidak bisa atau apa yang sulit, maka Anda hanya akan berhenti di situ. Gw beberapa kali bekerja sama dengan beberap teman untuk membangun sebuah bisnis. Dan ketika sudah menghadapi kesulitan sebagian dari kami fokus pada kesulitan. Bukan apada solusi dan jalan alternatif. Yang terjadi bisnis itu mandeg, tidak jalan dan kembali pada ide.
Berpikir alternatif bukan juga bertingkah nekat. Jika hujan deras dan banjir setinggin atap di depan rumah Anda, bukan berarti Anda nekat menerjang untuk mencapai kantor (tujuan). Berpikirlah apa yang Anda bisa buat saat itu. Menunggu hujan (rintangan) reda bukan berarti Anda berdiam diri. Menunggu hujan reda bisa berarti strategi Anda dalam mencapai tujuan. Yang terpenting adalah komitmen dan fokus pada apa yang Anda akan buat. Tidak selamanya hujan akan turun. Ada disaat hujan Akan reda. Tidak selamanya kemacetan di jalan membuat Anda terdiam selamanya di jalan. Ada saatnya macet itu akan terurai. Sama halnya dengan rintangan memulai bisnis, Ada saatnya rintangan itu akan "surut" dan saat itulah Anda bekerja dengan Cerdas. Si Men pernah bilang bekerjalah dengan cerdas bukan hanya menjadi pekerja keras. Jadilah pekerja Cerdas.
Salam Bro..
Dari pengamatan pandangan mata, tidak sedikit dari para pekerja yang akhirnya memutuskan untuk pulang lagi karena banjir. Bahkan tidak sedikit juga yang terpengaruh pada berita di sana-sini dan akhirnya memilih untuk tidak berangkat kerja. Kesempatan memang. Kapan lagi bisa tidak masuk kerja jika bukan saat banjir di mana-mana seperti ini.
Kali ini, gw bukan mau ngobrol soal banjir. Tapi peristiwa hari ini, menarik buat gw. Kebanyakan orang fokus sama permasalahan banjir hari ini. Padahal, pas gw lewat beberapa tempat yang tadinya dibicarakan orang, sudah tidak banjir lagi. Pemberitaan yang ada pun membuat orang terpusat pada masalah banjir saja. Orang tidak diajak untuk berpikir alternatif atau mencari cara yang terbaik untuk bisa mensikapi banjir. Pada akhirnya orang hanya berasumsi pada pikiran dia dan terapaku pada kesulitan yang ada.
Poin itulah yang menarik buat gw. Kenapa? Gw melihat hal itu sama seperti orang yang akan memulai suatu usaha atau bisnis. Tidak sedikit yang gw kenal, meyerah saat baru memulai bisnis. Bahkan baru memikirkannya saja sudah mulai menyerah. Tidak beda jauh bukan, dengan orang yang baru memikirkan betapa macet dan bajirnya jalanan padahal mereka masih di rumah dan memutuskan tidak berangkat kerja.
Ada tiga hal yang harus dimiliki dalam memulai suatu bisnis. Pertama adalah ide atau konsep. Ini merupakan hal awal yang harus dimiliki jika hendak memiliki suatu usaha. Biasanya di tahap ini, orang masih sangat bersemgat. Apalagi ide itu sering kali datang dari mana saja. Dan terkadang ada yang berhenti ditahap ide karena terlalu banyak memikirkan ide. Ini bukan berarti Anda tidak boleh memilki ide banyak. Sangat boleh dan harus. Dengan banyak ide Anda bisa memilih mana yang paling bisa Anda jalankan pertama. Tapi dengan catatan. Jangan terlalu sibuk pada ide Anda. karena bukan di sini akhir bisnis Anda.
Kedua, Bisnis Plan. Ini tahapan yang mulai berbobot dari pada cuap-cuap soal Ide. Anda diminta untuk mulai menuliskan dan menurunkan ide yang ada di benak Anda ke dalam suatu media. Bisa berbagai macam media untuk bisa menuangkan ide Anda. Tujuannya adalah agar bukan hanya Anda saja yang memahami Ide tersebut tapi orang lain juga. Dengan orang lain bisa memahami apa yang Anda akan buat, maka ide bisnis Anda sudah semakin menginjak bumi atau sudah mulai mendarat. Tapi jika Ide Anda masih dirasa oleh orang lain membingungkan dan tidak jelas, Anda perlu merenungkan kembali ide tersebut dan membuat ide tersebut menjadi lebih real (bisa diwujudkan). Real di sini bukan berarti Anda tidak bisa membuat hal mustahil atau belum pernah orang pikirkan. Tapi lebih pada bagaimana Anda menyakinkan diri Anda sendiri dan Anda tahu secara nyata/real apa yang akan Anda buat pertama kali. Gw selalu kagum dengan Thomas Alva Edison yang membuat nyata apa yang ia pikirkan walaupun orang lain tidak yakin dengan apa yang dia buat. Itulah yang dimaksud dengan real pada tahap kedua ini.
Ketiga adalah modal. Ini yang paling jitu membuat Anda mundur dan pulang lagi ke rumah. Sama seperti mendengar soal banjir lewat jejaring sosial atau pemberitaan lain yang membuat Anda tidak berangkat ke tempat kerja. Ketika mendengar bahwa Anda harus memiliki sejumlah modal maka tidak sedikit yang akhirnya tidak lagi bergerak dan hanya menjadi penonton "banjir" atau bahkan tidak bergerak sama sekali dan memilih diam. Parahnya, sebelum memasuki tahap pertama dan kedua, kita sering kali melompat dan melihat tahap ketiga. Sehingga sudah mundur duluan sebelum memulai tahap pertama dan kedua. Lalu apa yang harus dilakukan?
Lagi-lagi sama seperti menghadapi banjir di jalanan. Jika Anda tau tujuan Anda (tahap satu) dan tau arah Anda (tahap dua) yang bisa Anda buat adalah mencari jalan Alternatif. Sekalipun itu harus berputar lebih jauh, tapi Anda bergerak menuju tujuan dan arah akhir Anda. Berputar atau berjalan lebih jauh tapi bisa membuat Anda sampai tujuan, jauh lebih baik dari pada Anda menjadi penonton banjir dan tidak berbuat apa-apa. Atau Anda tidak bergerak sama sekali dari rumah. Ada seribu satu cara bagaimana Anda bisa sampai ketujuan jika Anda memilki komitmen untuk memulai bisnis. Sama seperti komitmen Anda untuk mencapai kantor. Caranya bagaimana? Anda sendiri yang tahu. Setiap orang memiliki jalan dan cara yang berbeda. Gw sampai kantor lewat jalan A. Temen gw sampai kantor lewat jalan B dengan sedikit macet. Tapi sama-sama sampai. Beda-beda. yang sama hanya satu. Niat atau komitmen untuk sampai kantor. Itu yang Anda butuhkan untuk memulai dan menjalankan bisnis.
Penyakit yang semakin gw sadari dari peristiwa banjir hari ini, tidak sedikit orang yang fokus pada apa yang tidak bisa mereka lakukan. Wah kalo banjir di sini ngga bisa lewat dong. Wa kalo lewat sana ngga bisa jalan dong. Itu-itu saja yang dipikirkan. Fokusnya hanya pada hal yang tidak bisa dilakukan. Kenapa tidak fokus pada apa yang bisa dilakukan. Sama seperti membangun bisnis, jika Anda hanya fokus pada apa yang tidak bisa atau apa yang sulit, maka Anda hanya akan berhenti di situ. Gw beberapa kali bekerja sama dengan beberap teman untuk membangun sebuah bisnis. Dan ketika sudah menghadapi kesulitan sebagian dari kami fokus pada kesulitan. Bukan apada solusi dan jalan alternatif. Yang terjadi bisnis itu mandeg, tidak jalan dan kembali pada ide.
Berpikir alternatif bukan juga bertingkah nekat. Jika hujan deras dan banjir setinggin atap di depan rumah Anda, bukan berarti Anda nekat menerjang untuk mencapai kantor (tujuan). Berpikirlah apa yang Anda bisa buat saat itu. Menunggu hujan (rintangan) reda bukan berarti Anda berdiam diri. Menunggu hujan reda bisa berarti strategi Anda dalam mencapai tujuan. Yang terpenting adalah komitmen dan fokus pada apa yang Anda akan buat. Tidak selamanya hujan akan turun. Ada disaat hujan Akan reda. Tidak selamanya kemacetan di jalan membuat Anda terdiam selamanya di jalan. Ada saatnya macet itu akan terurai. Sama halnya dengan rintangan memulai bisnis, Ada saatnya rintangan itu akan "surut" dan saat itulah Anda bekerja dengan Cerdas. Si Men pernah bilang bekerjalah dengan cerdas bukan hanya menjadi pekerja keras. Jadilah pekerja Cerdas.
Salam Bro..
Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?
Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?
Mayoritas headline media cetak ataupun elektronik berskala nasional maupun lokal dalam beberapa hari terakhir menyuguhkan wajah Jakarta yang berhias air. Yep banjir dimana-mana jek. Jalan protokol, jalan kampung, jalan tikus, daerah bergengsi yang harga tanahnya per meter bisa buat beli es dungdung lima ton, sampai tanah yang status tanahnya gak jelas, gak luput dari si air yang warnanya coklat susu ini jek.
Efek dari banjir, banyak pihak yang bilang bisa mengganggu jalannya perputaran roda ekonomi. Tergantung si ngeliatnya dari mana dulu. dari satu sisi mah banjir emang bisa ganggu pola jam kerja para pekerja. Alhasil, banyak pekerja yang menjadikan alasan BANJIR PAK, rumah saya kelelep, jalanan gak bisa dilewati tingginya sedada. Angkotnya mogok, keretanya mundur lagi rel gak bisa dilewati, bla-blalalalblabka, sebagai senjata untuk tidak masuk kerja.
Bagi yang emang dasarnya males juga bisa aja ikut-ikutan menjadikan momen ini sebagai kesempatan BERHARGA untuk tidak menempelkan jarinya ke finger print absensi. Yeah enak ni bisa selimutan sampe puas.
Tapi kembali ke pokok persoalan, banjir memang bisa mengganggu rutinitas kerja dan usaha. Coba itung aja berapa banyak kerugian yang tercipta akibat perputaran uang tidak berjalan akibat lumpuhnya akses mobilitas orang maupun barang. Ngitungnya gimana? Ada yang tahu. Beda kepentingan, beda kerugian. Elo elo, gue gue. Individualis abis.
Bagi yang bingung mengukur kerugian yang dimaksud, bisa pakai cara gampang mengukurnya dengan melihat dari status atau foto yang seseorang tampilkan di Path, Twitter, Facebook. Dari hasil survei yang ane lakukan mayoritas semua memposting kekesalan mereka terhadap banjir, dan seperti biasa lagi-lagi yang disalahkan dalam hal ini adalah pemerintah. Bukannya sok suci, ada pepatah lama mengatakan bahwa introspeksi dulu dirimu jek sebelum menyalahkan orang lain.
Banjir emang katro, selain bisa menyebabkan kerugian materi, nyawa juga menjadi pertaruhannya jek. SERIUS!!!!! Yang namanya urusan nyawa bukan bahan becandaan Jek.
Tapi bagi beberapa orang banjir bisa aja membawa berkah. Tengok aja ojek gerobak yang dipakai buat menjadi kendaraan penyelamat bagi motor-motor atau orang yang ingin melewati lautan banjir dadakan. Tengok aja orang-orang yang menyediakan lap atau busi buat menolong orang yang motornya mati. Pertolongan yang dimaksud si tetep aja dikenakan biaya.
Lagi-lagi tanpa bermaksud bercanda soal BENCANA BANJIR, mungkin ada baiknya setiap orang merenung dan segera melakukan tindakan nyata untuk mencegah banjir. JANGAN CUMA PASANG STATUS terus lo asik FOTO-FOTO BANJIR. Bayangkan jika tiba-tiba Indonesia di landa badai salju, apa kita siap menerimanya. Amit-amit dah. ane sendiri juga gak tau harus gmn biar gak banjir jakarta.
SalaMen
Rabu, 09 Januari 2013
ekonomis vs ekonomis
Ekonomis vs Ekonomis
Ah mau sok2an ngomongin ekonomis ah..... Meski kendati biarpun whatever gw pas SMA ngambil IPS yang notabene jurusan IPS yang identik dengan yang namanya pelajaran ekonomi, tapi kalau ditanya mashab, model, prinsip ataupun itu yang gw tau, prinsip ekonomi harus menguntungkan. Setuju? Bodo amat kalau gak setuju hahaha. Kalau bicara mashab atau aliran atau sekte apapun di ekonomi yang lainnya apalagi yang pake rumus2an segala gw gak mau sok tau.
Back to trek, kalau ngomong soal prinsip ekonomis yang dimaksud, kali ini gw akan bercerita soal seberapa sering kita menimbang2 dalam urusan naik angkutan umum. Biasanya orang yang penghasilannya tinggi kaya gw, Amin, kalau mau naek angkutan umum sering mikir mana yang paling murah, mana yang paling cepet, mana yang paling nyaman. Nah dalam kasus ini, gw bersama si Bro berencana pergi ke Grand Indonesia, tujuannya mau makan gaji buta. Start kita dari daerah Sahid. Background waktu siang hari bolong pas makan siang. Nah bagi yang familiar dengan rute panas Sudirman-Thamrin tentu bisa membayangkan kondisi rute panas yang akan kami lalui. Macet, Panas.blaa blaa blaaa
Sempat terjadi perdebatan dalam memutuskan pilihan angkutan yang akan kami gunakan. Opsi pertama, naik TJ aje, alias Trans Jakarta. Ongkos saat itu jauh deket masih Rp3.500 per orang. Alasan lain yang dipakai dalam opsi ini, haltenya gak gitu jauh sekitar 200 meter. perkiraan gw. Tapi opsi ini mendapatkan tentangan dari opsi lain yang beralasan jarak 200 meter dirasain jauh jek, dan belum tentu juga 200 meter pas bisa lebih jauh, bisa lebih pendek sih, tapi panas pula. belum lagi urusan nunggu TJ-nya, kalau cepet, kalau lama, ngantri, penuh pula, disamping itu ntar pas turun halte tujuan masih harus jalan lagi ke lokasi, cape deh. Anak mami males jalan..
Opsi yang berikutnya adalah naek bus kota, keuntungannya gak usah masuk halte, jegat dimana aja juga berhenti tuh bus, asalkan liat tangan menjulur ke arahnya, noh bus segede gambreng yang asep knalpotnya amit2 bakal mendekat bak magnet yang dilekati besi. Srrr. But yang jadi permasalahan disini adalah kita gak tau nomor busnya. Jadi harus nunggu gak jelas, atau harus sekalian tanya2 ke kenek yang bersangkutan busnya itu lewat tujuan kita kaga. Pake cara kaya gitu, panas jek, cape pula, rasa dahaga bisa bertambah, belum kalau nunggunya pake ngerokok atau beli minuman botol yang rata2 harganya Goceng alias Rp5.000, dikali 2 aja udah ketauan berapa. Hah.
Nah opsi terakhir adalah menggunakan taksi. Gambling juga si, kan harus nunggu yang kosong, belum lagi prime time nya taksi tuh pas maksi, tapi plusnya jelas skali naik sebut tujuan sampe. Mau dibawa kemana aja tuh taksi juga mau hahaha apalagi yang belum dapet tarikan dari pagi tuh supir pasrah kali.
Setelah menimbang prinsip ekonomis dari ketiga opsi yang ada. Opsi pake taksi lebih ekonomis jek. Coba kita review, naik taksi dengan jarak tarif bawah skali buka pintu rata2 Rp.5000, taksi biasa ye bukan yang premium taksi, (harga berapa ya?) nah estimasi jarak yang akan ditempuh kurang dari 1,5 km, ya paling kalau lancar total sekitar Rp8.000-an, kalau macet ada demo kerusuhan atau banjir ya itung aje sendiri biayanya. Nah kalau naik TJ, Rp3.500 dikali 2 adalah Rp7.000, belum kalau jalan ke halte jauh harus beli minum Rp5.000 hah lebih mahal jek gak ekonomis. Kalau naik bus kayanya lebih murah si, ongkos bus kota berapa sih gw gak tau, terakhir kali naik metromini udah lama juga, bukannya sombong, gw biasanya naik motor kesayangan. Tapi kalau gak salah si Rp2.000, total berdua emang hanya Rp4.000, tapi ya lagi2 panas2 keringetan males jek. Turun ditujuan, tujuan gw pasti beli minuman botol, lagi2 dalam hal ini harus mengeluarkan dana dari kantong. Anak mami sok tajir melintir males naik bus non AC tapi pelitnya minta ampun.
Intinya si, mungkin ada orang yang berpikir naik taksi mahal tapi kalau diperhitungkan dari berbagai sisi, berbagai opsi, naik taksi kadang lebih menguntungkan secara nilai ekonomis, kendati gw sendiri sebenernya gak paham yang dimaksud ekonomis itu apa. Hidup taksi. Nangkep gak maksudnya? Kaga? Bodolah.
-SalaMen-
Senin, 07 Januari 2013
I'ts Krabby Patty not Hamburger (Strategi Membangun Pasar Melalui Persepsi)
Kali ini, gw tidak berbicara soal makanan. Sekalipun pagi ini, gw belum sarapan dan ngiler liat gambar di sebelah tulisan ini (hehhe). Gw tertarik dengan tulisan di bawah gambar Humberger atau burger itu. Ya, Kabby Patty.
Ada yang tidak tahu apa itu Krabby Patty? kalo ada yang tidak tahu gambar di atas. Gw kasih gambar di samping kanan yang membuat Anda bisa menduga-duga. Kini Anda sudah tahu? Jika belum juga, cape deh... (hehhhe). Kabby patty merupakan humburger buatan spongebob di restoran Mr Krab. Kalo belum tau juga nonton saja filmnya. hehehe. Di sini gw juga ngga akan bahas film spongebob atau teman temannya. Gw hanya mau kasih tau kalau kemarin pas gw beli burger pinggir jalan seharga 5000 ada seorang bapak yang sedang menggendong anaknya dan berkata ,"ade mau Krabby Patty?"
What!!!! U kira yang lagi manggang roti itu Spongebob????No...He is DORAEMON!!! (Hahahah). Kidding. Walaupun pria penjual burger itu tambun dan mirip Doraemon.
Mendengar itu, gw lantas berpikir kenapa tidak ada yang menggunakan nama Krabby Patty dalam menjual burger. Semua penjual menuliskan kata BURGER di depan gerobak mereka (mulai sotoy). Padahal menurut analisa gw membuat branding suatu merek itu perlu waktu yang panjang dan memerlukan edukasi pasar yang cukup lama. Itu sebabnya iklan di media selalu diulang-ulang. Lain cerita jika nama tersebut sudah cukup melekat di pasar (emang permen karet melekat). Seperti kata Krabby Patty yang ada di film Spongebob.
Hampir setiap hari anak-anak menyaksikan spongebob (sotoy abis). Hal itu membuat anak anak mudah mengenal apa itu Krabby Patty. Gw pikir bukan hanya anak anak, orang dewasa juga. Kenapa orang dewasa juga? Karena sebagai orang tua yang baik harus mendampingi anaknya dalam menonton televisi. Bahkan di televisi di tampilkan kode BO atau Bimbingan Orang tua. Itu artinya orang tua wajib nonton serial anak anak. Jadi secara tidak langsung apa yang diketahui anak anak akan dipahami orang tua. Itu sebabnya banyak produk anak anak yang dibeli atas keinginan orang tuanya. (Makin Sotoy)
Jika brandingnya sudah dikenal maka akan memudahkan dalam penjualan. Orang bilang jika tak kenal maka tidak sayang. Rasanya ungkapan itu tepat juga jika diterapkan pada kebutuhan brand suatu produk. Jika orang tidak kenal maka orang pun tidak akan "sayang" pada produk tersebut. Kalau gw mau jualan burger, gw pasti pake nama itu, Krebby Petti (biar ngga mirip sama yang ada di film Spongebob. Nanti dibilang menjiplak. Padahal dikit... Hehehe). Sekali pasang orang dewasa apa lagi anak-anak pasti akan penasaran dengan Krebby Petti.
Menurut analisa gw, pasar itu memiliki masa jenuh dalam melihat suatu produk. Mereka "bosan" dengan Burger tapi belum tentu denga Krebby Petti atau Krabby Patty. Bedanya hanya pada persepsi. Itu yang dibutuhkan pasar. Contoh kenapa persepsi itu penting dan bisa mempengaruhi konsumen. Misalnya, Anda dan keluarga makan bersama di restoran dan memilih menu seharga 100.000 untuk berempat. Setelah selesai, Anda membayar makanan seharga 100.000 rupiah ditambah dengan pajak 10% plus service 5& menjadi 115.000 rupiah, Anda akan merasa bahwa ada biaya yang harus Anda keluarkan. Buat gw hal itu terasa merugikan.
Lain halnya jika Anda melihat menu makanan dengan harga 120.000 untuk berempat. Dan Anda membayar hanya 120.000. Anda akan berpikir bahwa wah murah juga 120.000 untuk berempat, tanpa pajak dan service pula. Lihat perbedaannya? Persepsi Anda akan mengatakan bahwa 120.000 itu murah karena tanpa pajak dan service. Walaupun secara nominal lebih murah 115.000. Tapi persepsi berkata lain. Sama halnya dengan Krabby Patty dan Humburger. Orang bosan dengan Humburger tapi belum tentu dengan Krabby Patty. It's About Perception.
Salam Bro..
Langganan:
Postingan (Atom)