Masih hangat seputar pemberitaan banjir di Jakarta
yang menurut pemberitaan media disebut sebagai kelumpuhan Jakarta.
Hampir setiap hari, pemberitaan Banjir Jakarta masih terus menghiasi
media massa. Bahkan seperti pada tulisan gw sebelumya yang berjudul
Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis tidak sedikit orang yang akhirnya
balik kanan dan tidak jadi berangkat ke kantor ketika melihat
pemberitaan soal banjir di Jakarta. Bahkan teman dan kerabat gw di luar
kota pun turut khawatir dan menayakan keadaan gw di Jakarta. Mereka
mengira bahwa daerah-daerah di Jakarta benar-benar ‘tenggelam’.
Gw rasa kekhawatiran mereka terbangun dari pemberitaan media soal banjir di Jakarta. Bagaimana tidak khawatir jika yang menjadi sudut pandang dari para teman-teman media hanya diseputar permasalahannya saja. Hanya sedikit yang mencoba melihat dari sisi lain. Menurut gw, isi dari pemberitaannya pun itu itu saja. Selalu di seputar tinggi genangan air, berapa besar curah hujan, kondisi para pengungsi, ricuh soal pembagian makanan atau obat-obatan, dan sekitar hal-hal seperti itu. Semua pemberitaan itu membangun image bahwa Jakarta memang benar-benar ‘tenggelam’ dan tidak ada harapan lain dari kondisi tersebut.
Dalam tulisan ini gw bukan ingin mengkesampingkan nilai berita yang masih ada terkandung dalam setiap pemberitaan macam itu. Dan tidak juga mengkesampingkan bahwa berita macam itu tidak penting. Informasi seperti itu tentu masih dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk tau apa yang masih terjadi di lokasi. Namun, ketika pemberitaan itu mulai semakin lebay (berlebihan) itu yang menurut gw kurang tepat di sampaikan pada masyarakat. Masyarakat dijejali kekhawatiran dan permasalahan. Bukan pengharapan dan jalan keluar. Media seakan ‘memanfaatkan’ banjir sebagai alat marketing mereka dalam meningkatkan rating atau pun penonton. Konsep Bad News is Good News terus di bawa oleh media semacam itu dan seakan ditambah lagi menjadi Bad News is Good Marketing and News.
Ada dua hal yang menurut gw bisa dilihat dari kondisi ini. Pertama, Media sering kali terfokus pada Bad News dalam pencarian angle berita. Kedua Pemberitaan Bad News itu sering kali semakin di-lebay-lebay-kan agar terkesan “menjual”. Menanggapi hal pertama, gw merasa miris jika bad news yang selalu menjadi sudut pandangan pemberitaan. Saat terjadi banjir besar di sekitar Jalan Sudirman terjadi, sebenarnya banyak jalan yang juga tidak digenangi banjir dan bisa jadi jalur alternatif bagi pengguna jalan. Tapi tidak banyak media yang mengambil angle semcam itu. Banyak media malah fokus pada titik banjir, penderitaan korban serta kerugiaan yang dialami.
Kedua,Mengapa pemberitaan itu seakan menjadi alat marketing? Seperti halnya sebuah iklan di media yang membuat sebuah produk atau jasa menjadi lebih “Wah” dari aslinya, begitulah berita lebay yang sering ditampilkan. Banjir yang ada tahun ini memang diprediksikan akan lebih besar dampaknya dari banjir yang terjaid 2007. Tapi rasanya lebay jika pemberitaan lima tahunan ini hanya itu-itu saja yang disorot. Kasihan publik yang menyaksikan pemberitaan tersebut. Seperti dicekoki iklan yang luar biasa namun ketika melihat aslinya tidak “Wah” seperti yang diiklankan.
Menanggapi pemberitaan lebay yang terkesan hanya sebagai alat marketing ini, gw bukan bermaksud menghakimi. Ini hanya sekadar opini gw dalam melihat pemberitaan yang ada seputar banjir agar masyarakat tidak ikut ikutan lebay dalam mensikapi masalah yang ada dan bisa menjadi pemirsa yang cerdas.
Salam Bro
Gw rasa kekhawatiran mereka terbangun dari pemberitaan media soal banjir di Jakarta. Bagaimana tidak khawatir jika yang menjadi sudut pandang dari para teman-teman media hanya diseputar permasalahannya saja. Hanya sedikit yang mencoba melihat dari sisi lain. Menurut gw, isi dari pemberitaannya pun itu itu saja. Selalu di seputar tinggi genangan air, berapa besar curah hujan, kondisi para pengungsi, ricuh soal pembagian makanan atau obat-obatan, dan sekitar hal-hal seperti itu. Semua pemberitaan itu membangun image bahwa Jakarta memang benar-benar ‘tenggelam’ dan tidak ada harapan lain dari kondisi tersebut.
Dalam tulisan ini gw bukan ingin mengkesampingkan nilai berita yang masih ada terkandung dalam setiap pemberitaan macam itu. Dan tidak juga mengkesampingkan bahwa berita macam itu tidak penting. Informasi seperti itu tentu masih dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk tau apa yang masih terjadi di lokasi. Namun, ketika pemberitaan itu mulai semakin lebay (berlebihan) itu yang menurut gw kurang tepat di sampaikan pada masyarakat. Masyarakat dijejali kekhawatiran dan permasalahan. Bukan pengharapan dan jalan keluar. Media seakan ‘memanfaatkan’ banjir sebagai alat marketing mereka dalam meningkatkan rating atau pun penonton. Konsep Bad News is Good News terus di bawa oleh media semacam itu dan seakan ditambah lagi menjadi Bad News is Good Marketing and News.
Ada dua hal yang menurut gw bisa dilihat dari kondisi ini. Pertama, Media sering kali terfokus pada Bad News dalam pencarian angle berita. Kedua Pemberitaan Bad News itu sering kali semakin di-lebay-lebay-kan agar terkesan “menjual”. Menanggapi hal pertama, gw merasa miris jika bad news yang selalu menjadi sudut pandangan pemberitaan. Saat terjadi banjir besar di sekitar Jalan Sudirman terjadi, sebenarnya banyak jalan yang juga tidak digenangi banjir dan bisa jadi jalur alternatif bagi pengguna jalan. Tapi tidak banyak media yang mengambil angle semcam itu. Banyak media malah fokus pada titik banjir, penderitaan korban serta kerugiaan yang dialami.
Kedua,Mengapa pemberitaan itu seakan menjadi alat marketing? Seperti halnya sebuah iklan di media yang membuat sebuah produk atau jasa menjadi lebih “Wah” dari aslinya, begitulah berita lebay yang sering ditampilkan. Banjir yang ada tahun ini memang diprediksikan akan lebih besar dampaknya dari banjir yang terjaid 2007. Tapi rasanya lebay jika pemberitaan lima tahunan ini hanya itu-itu saja yang disorot. Kasihan publik yang menyaksikan pemberitaan tersebut. Seperti dicekoki iklan yang luar biasa namun ketika melihat aslinya tidak “Wah” seperti yang diiklankan.
Menanggapi pemberitaan lebay yang terkesan hanya sebagai alat marketing ini, gw bukan bermaksud menghakimi. Ini hanya sekadar opini gw dalam melihat pemberitaan yang ada seputar banjir agar masyarakat tidak ikut ikutan lebay dalam mensikapi masalah yang ada dan bisa menjadi pemirsa yang cerdas.
Salam Bro
