Label

Minggu, 20 Januari 2013

Pemberitaan Lebay hanya Strategi Marketing Dunia Media?

Masih hangat seputar pemberitaan banjir di Jakarta yang menurut pemberitaan media disebut sebagai kelumpuhan Jakarta. Hampir setiap hari, pemberitaan Banjir Jakarta masih terus menghiasi media massa. Bahkan seperti pada tulisan gw sebelumya  yang berjudul Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis tidak sedikit orang yang akhirnya balik kanan dan tidak jadi berangkat ke kantor ketika melihat pemberitaan soal banjir di Jakarta. Bahkan teman dan kerabat gw di luar kota pun turut khawatir dan menayakan keadaan gw di Jakarta. Mereka mengira bahwa daerah-daerah di Jakarta benar-benar ‘tenggelam’.

Gw rasa kekhawatiran mereka terbangun dari pemberitaan media soal banjir di Jakarta. Bagaimana tidak khawatir jika yang menjadi sudut pandang dari para teman-teman media hanya diseputar permasalahannya saja. Hanya sedikit yang mencoba melihat dari sisi lain. Menurut gw, isi dari pemberitaannya pun itu itu saja. Selalu di seputar tinggi genangan air, berapa besar curah hujan, kondisi para pengungsi, ricuh soal pembagian makanan atau obat-obatan, dan sekitar hal-hal seperti itu. Semua pemberitaan itu membangun image bahwa Jakarta memang benar-benar ‘tenggelam’ dan tidak ada harapan lain dari kondisi tersebut.

Dalam tulisan ini gw bukan ingin mengkesampingkan  nilai berita yang masih ada terkandung dalam setiap pemberitaan macam itu. Dan tidak juga mengkesampingkan bahwa berita macam itu tidak penting. Informasi seperti itu tentu masih dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk tau apa yang masih terjadi di lokasi. Namun, ketika pemberitaan itu mulai semakin lebay (berlebihan) itu yang menurut gw kurang tepat di sampaikan pada masyarakat. Masyarakat dijejali kekhawatiran dan permasalahan. Bukan pengharapan dan jalan keluar. Media seakan ‘memanfaatkan’ banjir sebagai alat marketing mereka dalam meningkatkan rating atau pun penonton. Konsep Bad News is Good News terus di bawa oleh media semacam itu dan seakan ditambah lagi menjadi Bad News is Good Marketing and News.

Ada dua hal yang menurut gw bisa dilihat dari kondisi ini. Pertama, Media sering kali terfokus pada Bad News dalam pencarian angle berita. Kedua Pemberitaan Bad News itu sering kali semakin di-lebay-lebay-kan agar terkesan  “menjual”. Menanggapi hal pertama, gw merasa miris jika bad news yang selalu menjadi sudut pandangan pemberitaan. Saat terjadi banjir besar di sekitar Jalan Sudirman terjadi, sebenarnya banyak jalan yang juga tidak digenangi banjir dan bisa jadi jalur alternatif bagi pengguna jalan. Tapi tidak banyak media yang mengambil angle semcam itu. Banyak media malah fokus pada titik banjir, penderitaan korban serta kerugiaan yang dialami.

Kedua,Mengapa pemberitaan itu seakan menjadi alat marketing? Seperti halnya sebuah iklan di media yang membuat sebuah produk atau jasa menjadi lebih “Wah” dari aslinya, begitulah berita lebay yang sering ditampilkan. Banjir yang ada tahun ini memang diprediksikan akan lebih besar dampaknya dari banjir yang terjaid 2007. Tapi rasanya lebay jika pemberitaan lima tahunan ini hanya itu-itu saja yang disorot. Kasihan publik yang menyaksikan pemberitaan tersebut. Seperti dicekoki iklan yang luar biasa namun ketika melihat aslinya tidak “Wah” seperti yang diiklankan.

Menanggapi pemberitaan lebay yang terkesan hanya sebagai alat marketing ini, gw bukan bermaksud menghakimi. Ini hanya sekadar opini gw dalam melihat pemberitaan yang ada seputar banjir agar masyarakat tidak ikut ikutan lebay dalam mensikapi masalah yang ada dan bisa menjadi pemirsa yang cerdas.
Salam Bro

Kamis, 17 Januari 2013

Kunci Memulai dan Menjalankan Bisnis

Hari ini hampir semua pemberitaan di Ibu kota dipenuhi dengan persoalan banjir. Sejak tadi pagi, soal banjir ini sudah ramai di mana-mana. Mulai dari obrolan orang yang belum berangkat ke kantor dengan alasan banjir, jejaring sosial yang dipenuhi dengan foto dan cuap-cuap banjir, hingga media berita televisi yang super heboh dengan banjir. Sepertinya tidak habis-habisnya soal banjir hari ini dibicarakan.

Dari pengamatan pandangan mata, tidak sedikit dari para pekerja yang akhirnya memutuskan untuk pulang lagi karena banjir. Bahkan tidak sedikit juga yang terpengaruh pada berita di sana-sini dan akhirnya memilih untuk tidak berangkat kerja. Kesempatan memang. Kapan lagi bisa tidak masuk kerja jika bukan saat banjir di mana-mana seperti ini.

Kali ini, gw bukan mau ngobrol soal banjir. Tapi peristiwa hari ini, menarik buat gw. Kebanyakan orang fokus sama permasalahan banjir hari ini. Padahal, pas gw lewat beberapa tempat yang tadinya dibicarakan orang,  sudah tidak banjir lagi. Pemberitaan yang ada pun membuat orang terpusat pada masalah banjir saja. Orang tidak diajak untuk berpikir alternatif atau mencari cara yang terbaik untuk bisa mensikapi banjir. Pada akhirnya orang hanya berasumsi pada pikiran dia dan terapaku pada kesulitan yang ada.

Poin itulah yang menarik buat gw. Kenapa? Gw melihat hal itu sama seperti orang yang akan memulai suatu usaha atau bisnis. Tidak sedikit yang gw kenal, meyerah saat baru memulai bisnis. Bahkan baru memikirkannya saja sudah mulai menyerah. Tidak beda jauh bukan, dengan orang yang baru memikirkan betapa macet dan bajirnya jalanan padahal mereka masih di rumah dan memutuskan tidak berangkat kerja.

Ada tiga hal yang harus dimiliki dalam memulai suatu bisnis. Pertama adalah ide atau konsep. Ini merupakan hal awal yang harus dimiliki jika hendak memiliki suatu usaha. Biasanya di tahap ini, orang masih sangat bersemgat. Apalagi ide itu sering kali datang dari mana saja. Dan terkadang ada yang berhenti ditahap ide karena terlalu banyak memikirkan ide. Ini bukan berarti Anda tidak boleh memilki ide banyak. Sangat boleh dan harus. Dengan banyak ide Anda bisa memilih mana yang paling bisa Anda jalankan pertama. Tapi dengan catatan. Jangan terlalu sibuk pada ide Anda. karena bukan di sini akhir bisnis Anda.

Kedua, Bisnis Plan. Ini tahapan yang mulai berbobot dari pada cuap-cuap soal Ide. Anda diminta untuk mulai menuliskan dan menurunkan ide yang ada di benak Anda ke dalam suatu media. Bisa berbagai macam media untuk bisa menuangkan ide Anda. Tujuannya adalah agar bukan hanya Anda saja yang memahami Ide tersebut tapi orang lain juga. Dengan orang lain bisa memahami apa yang Anda akan buat, maka ide bisnis Anda sudah semakin menginjak bumi atau sudah mulai mendarat. Tapi jika Ide Anda masih dirasa oleh orang lain membingungkan dan tidak jelas, Anda perlu merenungkan kembali ide tersebut dan membuat ide tersebut menjadi lebih real (bisa diwujudkan). Real di sini bukan berarti Anda tidak bisa membuat hal mustahil atau belum pernah orang pikirkan. Tapi lebih pada bagaimana Anda menyakinkan diri Anda sendiri dan Anda tahu secara nyata/real apa yang akan Anda buat pertama kali. Gw selalu kagum dengan Thomas Alva Edison yang membuat nyata apa yang ia pikirkan walaupun orang lain tidak yakin dengan apa yang dia buat. Itulah yang dimaksud dengan real pada tahap kedua ini.

Ketiga adalah modal. Ini yang paling jitu membuat Anda mundur dan pulang lagi ke rumah. Sama seperti mendengar soal banjir lewat jejaring sosial atau pemberitaan lain yang membuat Anda tidak berangkat ke tempat kerja. Ketika mendengar bahwa Anda harus memiliki sejumlah modal maka tidak sedikit yang akhirnya tidak lagi bergerak dan hanya menjadi penonton "banjir" atau bahkan tidak bergerak sama sekali dan memilih diam. Parahnya, sebelum memasuki tahap pertama dan kedua, kita sering kali melompat dan melihat tahap ketiga. Sehingga sudah mundur duluan sebelum memulai tahap pertama dan kedua. Lalu apa yang harus dilakukan?

Lagi-lagi sama seperti menghadapi banjir di jalanan. Jika Anda tau tujuan Anda (tahap satu) dan tau arah Anda (tahap dua) yang bisa Anda buat adalah mencari jalan Alternatif. Sekalipun itu harus berputar lebih jauh, tapi Anda bergerak menuju tujuan dan arah akhir Anda. Berputar atau berjalan lebih jauh tapi bisa membuat Anda sampai tujuan, jauh lebih baik dari pada Anda menjadi penonton banjir dan tidak berbuat apa-apa. Atau Anda tidak bergerak sama sekali dari rumah. Ada seribu satu cara bagaimana Anda bisa sampai ketujuan jika Anda memilki komitmen untuk memulai bisnis. Sama seperti komitmen Anda untuk mencapai kantor. Caranya bagaimana? Anda sendiri yang tahu. Setiap orang memiliki jalan dan cara yang berbeda. Gw sampai kantor lewat jalan A. Temen gw sampai kantor lewat jalan B dengan sedikit macet. Tapi sama-sama sampai. Beda-beda. yang sama hanya satu. Niat atau komitmen untuk sampai kantor. Itu yang Anda butuhkan untuk memulai dan menjalankan bisnis.

Penyakit yang semakin gw sadari dari peristiwa banjir hari ini, tidak sedikit orang yang fokus pada apa yang tidak bisa mereka lakukan. Wah kalo banjir di sini ngga bisa lewat dong. Wa kalo lewat sana ngga bisa jalan dong. Itu-itu saja yang dipikirkan. Fokusnya hanya pada hal yang tidak bisa dilakukan. Kenapa tidak fokus pada apa yang bisa dilakukan. Sama seperti membangun bisnis, jika Anda hanya fokus pada apa yang tidak bisa atau apa yang sulit, maka Anda hanya akan berhenti di situ. Gw beberapa kali bekerja sama dengan beberap teman untuk membangun sebuah bisnis. Dan ketika sudah menghadapi kesulitan sebagian dari kami fokus pada kesulitan. Bukan apada solusi dan jalan alternatif. Yang terjadi bisnis itu mandeg, tidak jalan dan kembali pada ide.

Berpikir alternatif bukan juga bertingkah nekat. Jika hujan deras dan banjir setinggin atap di depan rumah Anda, bukan berarti Anda nekat menerjang untuk mencapai kantor (tujuan). Berpikirlah apa yang Anda bisa buat saat itu. Menunggu hujan (rintangan) reda  bukan berarti  Anda berdiam diri. Menunggu hujan reda bisa berarti strategi Anda dalam mencapai tujuan. Yang terpenting adalah komitmen dan fokus pada apa yang Anda akan buat. Tidak selamanya hujan akan turun. Ada disaat hujan Akan reda. Tidak selamanya kemacetan di jalan membuat Anda terdiam selamanya di jalan. Ada saatnya macet itu akan terurai. Sama halnya dengan rintangan memulai bisnis, Ada saatnya rintangan itu akan "surut" dan saat itulah Anda bekerja dengan Cerdas. Si Men pernah bilang bekerjalah dengan cerdas bukan hanya menjadi pekerja keras. Jadilah pekerja Cerdas.

Salam Bro..

Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?

Ekonomi Lumpuh Karena Banjir?

                Mayoritas headline media cetak ataupun elektronik berskala nasional maupun lokal dalam beberapa hari terakhir menyuguhkan wajah Jakarta yang berhias air. Yep banjir dimana-mana jek. Jalan protokol, jalan kampung, jalan tikus, daerah bergengsi yang harga tanahnya per meter bisa buat beli es dungdung lima ton, sampai tanah yang status tanahnya gak jelas, gak luput dari si air yang warnanya coklat susu ini jek.
                Efek dari banjir, banyak pihak yang bilang bisa mengganggu jalannya perputaran roda ekonomi. Tergantung si ngeliatnya dari mana dulu. dari satu sisi mah banjir emang bisa ganggu pola jam kerja para pekerja. Alhasil, banyak pekerja yang menjadikan alasan BANJIR PAK, rumah saya kelelep,  jalanan gak bisa dilewati tingginya sedada. Angkotnya mogok, keretanya mundur lagi rel gak bisa dilewati, bla-blalalalblabka, sebagai senjata untuk tidak masuk kerja.
Bagi yang emang dasarnya males juga bisa aja ikut-ikutan menjadikan momen ini sebagai kesempatan BERHARGA untuk tidak menempelkan jarinya ke finger print absensi. Yeah enak ni bisa selimutan sampe puas.
Tapi kembali ke pokok persoalan, banjir memang bisa mengganggu rutinitas kerja dan usaha. Coba itung aja berapa banyak kerugian yang tercipta akibat perputaran uang tidak berjalan akibat lumpuhnya akses mobilitas orang maupun barang. Ngitungnya gimana? Ada yang tahu. Beda kepentingan, beda kerugian. Elo elo, gue gue. Individualis abis.
Bagi yang bingung mengukur kerugian yang dimaksud, bisa pakai cara gampang  mengukurnya dengan  melihat dari status atau foto yang seseorang tampilkan di Path, Twitter, Facebook. Dari hasil survei yang ane lakukan mayoritas semua memposting kekesalan mereka terhadap banjir, dan seperti biasa lagi-lagi yang disalahkan dalam hal ini adalah pemerintah. Bukannya sok suci, ada pepatah lama mengatakan bahwa introspeksi dulu dirimu jek sebelum menyalahkan orang lain.
Banjir emang katro, selain bisa menyebabkan kerugian materi, nyawa juga menjadi pertaruhannya jek. SERIUS!!!!! Yang namanya urusan nyawa bukan bahan becandaan Jek.
Tapi bagi beberapa orang banjir bisa aja membawa berkah. Tengok aja ojek gerobak yang dipakai buat menjadi kendaraan penyelamat bagi motor-motor atau orang yang ingin melewati lautan banjir dadakan. Tengok aja orang-orang yang menyediakan lap atau busi buat menolong orang yang motornya mati. Pertolongan yang dimaksud si tetep aja dikenakan biaya.
Lagi-lagi tanpa bermaksud bercanda soal BENCANA BANJIR, mungkin ada baiknya setiap orang merenung dan segera melakukan tindakan nyata untuk mencegah banjir. JANGAN CUMA PASANG STATUS terus lo asik FOTO-FOTO BANJIR. Bayangkan jika tiba-tiba Indonesia di landa badai salju, apa kita siap menerimanya. Amit-amit dah. ane sendiri juga gak tau harus gmn biar gak banjir jakarta.
SalaMen

Rabu, 09 Januari 2013

ekonomis vs ekonomis

Ekonomis vs Ekonomis

                Ah mau sok2an ngomongin ekonomis ah..... Meski kendati biarpun whatever gw pas SMA ngambil IPS yang notabene jurusan IPS yang identik dengan yang namanya pelajaran ekonomi, tapi kalau ditanya mashab, model, prinsip ataupun itu yang gw tau, prinsip ekonomi harus menguntungkan. Setuju? Bodo amat kalau gak setuju hahaha. Kalau bicara mashab atau aliran atau sekte apapun di ekonomi yang lainnya apalagi yang pake rumus2an segala gw gak mau sok tau.
             Back to trek, kalau ngomong soal prinsip ekonomis yang dimaksud, kali ini gw akan bercerita soal seberapa sering kita menimbang2 dalam urusan naik angkutan umum. Biasanya orang yang penghasilannya tinggi kaya gw, Amin, kalau mau naek angkutan umum sering mikir mana yang paling murah, mana yang paling cepet, mana yang paling nyaman. Nah dalam kasus ini, gw bersama si Bro berencana pergi ke Grand Indonesia, tujuannya mau makan gaji buta. Start kita dari daerah Sahid. Background waktu siang hari bolong pas makan siang. Nah bagi yang familiar dengan rute panas Sudirman-Thamrin tentu bisa membayangkan kondisi rute panas yang akan kami lalui. Macet, Panas.blaa blaa blaaa
Sempat terjadi perdebatan dalam memutuskan pilihan angkutan yang akan kami gunakan. Opsi pertama, naik TJ aje, alias Trans Jakarta. Ongkos saat itu jauh deket masih Rp3.500 per orang. Alasan lain yang dipakai dalam opsi ini, haltenya gak gitu jauh sekitar 200 meter. perkiraan gw. Tapi opsi ini mendapatkan tentangan dari opsi lain yang beralasan jarak 200 meter dirasain jauh jek, dan belum tentu juga 200 meter pas bisa lebih jauh, bisa lebih pendek sih, tapi panas pula. belum lagi urusan nunggu TJ-nya, kalau cepet, kalau lama, ngantri, penuh pula, disamping itu ntar pas turun halte tujuan masih harus jalan lagi ke lokasi, cape deh. Anak mami males jalan..
Opsi yang berikutnya adalah naek bus kota, keuntungannya gak usah masuk halte, jegat dimana aja juga berhenti tuh bus, asalkan liat tangan menjulur ke arahnya, noh bus segede gambreng yang asep knalpotnya amit2 bakal mendekat bak magnet yang dilekati besi. Srrr. But yang jadi permasalahan disini adalah kita gak tau nomor busnya. Jadi harus nunggu gak jelas, atau harus sekalian tanya2 ke kenek yang bersangkutan busnya itu lewat tujuan kita kaga. Pake cara kaya gitu, panas jek, cape pula, rasa dahaga bisa bertambah, belum kalau nunggunya pake ngerokok atau beli minuman botol yang rata2 harganya Goceng alias Rp5.000, dikali 2 aja udah ketauan berapa. Hah.
Nah opsi terakhir adalah menggunakan taksi. Gambling juga si, kan harus nunggu yang kosong, belum lagi prime time nya taksi tuh pas maksi, tapi plusnya jelas skali naik sebut tujuan sampe. Mau dibawa kemana aja tuh taksi juga mau hahaha apalagi yang belum dapet tarikan dari pagi tuh supir pasrah kali.
                Setelah menimbang prinsip ekonomis dari ketiga opsi yang ada. Opsi pake taksi lebih ekonomis jek. Coba kita review, naik taksi dengan jarak tarif bawah skali buka pintu rata2 Rp.5000, taksi biasa ye bukan yang premium taksi, (harga berapa ya?) nah estimasi jarak yang akan ditempuh kurang dari 1,5 km, ya paling  kalau lancar total sekitar Rp8.000-an, kalau macet ada demo kerusuhan atau banjir ya itung aje sendiri biayanya. Nah kalau naik TJ, Rp3.500 dikali 2 adalah Rp7.000, belum kalau jalan ke halte jauh harus beli minum Rp5.000 hah lebih mahal jek gak ekonomis. Kalau naik bus kayanya lebih murah si, ongkos bus kota berapa sih gw gak tau, terakhir kali naik metromini udah lama juga, bukannya sombong, gw biasanya naik motor kesayangan. Tapi kalau gak salah si Rp2.000, total berdua emang hanya Rp4.000, tapi ya lagi2 panas2 keringetan  males jek. Turun ditujuan, tujuan gw pasti beli minuman botol, lagi2 dalam hal ini harus mengeluarkan dana dari kantong. Anak mami sok tajir melintir males naik bus non AC tapi pelitnya minta ampun.
                Intinya si, mungkin ada orang yang berpikir naik taksi mahal tapi kalau diperhitungkan dari berbagai sisi, berbagai opsi, naik taksi kadang lebih menguntungkan secara nilai ekonomis, kendati gw sendiri sebenernya gak paham yang dimaksud ekonomis itu apa. Hidup taksi. Nangkep gak maksudnya? Kaga? Bodolah.
-SalaMen-

Senin, 07 Januari 2013

I'ts Krabby Patty not Hamburger (Strategi Membangun Pasar Melalui Persepsi)

Anda tahu makanan yang satu ini? Yup Hamburger atau dikenal juga dengan Burger. Roti bundar yang diisi dengan potongan daging sapi. Ditumpuk dengan selembar keju gurih. Ditambah dengan irisan tomat, mentimun atau bawang dan lembaran daun salada yang segar. Sebagai pelengkap, sering juga ditambahkan saus tomat, cabai atau mayones. Hmm..yummy...

Kali ini, gw tidak berbicara soal makanan. Sekalipun pagi ini, gw belum sarapan dan ngiler liat gambar di sebelah tulisan ini (hehhe). Gw tertarik dengan tulisan di bawah gambar Humberger atau burger itu. Ya, Kabby Patty.

Ada yang tidak tahu apa itu Krabby Patty? kalo ada yang tidak tahu gambar di atas. Gw kasih gambar  di samping kanan yang membuat Anda bisa menduga-duga. Kini Anda sudah tahu? Jika belum juga, cape deh... (hehhhe). Kabby patty merupakan humburger buatan spongebob di restoran Mr Krab. Kalo belum tau juga nonton saja filmnya. hehehe. Di sini gw juga ngga akan bahas film spongebob atau teman temannya. Gw hanya mau kasih tau kalau kemarin pas gw beli burger pinggir jalan seharga 5000 ada seorang bapak yang sedang menggendong anaknya dan berkata ,"ade mau Krabby Patty?"

What!!!! U kira yang lagi manggang roti itu Spongebob????No...He is DORAEMON!!! (Hahahah). Kidding. Walaupun pria penjual burger itu tambun dan mirip Doraemon.

Mendengar itu, gw lantas berpikir kenapa tidak ada yang menggunakan nama Krabby Patty dalam menjual burger. Semua penjual menuliskan kata BURGER di depan gerobak mereka (mulai sotoy). Padahal menurut analisa gw membuat branding suatu merek itu perlu waktu yang panjang dan memerlukan edukasi pasar yang cukup lama. Itu sebabnya iklan di media selalu diulang-ulang. Lain cerita jika nama tersebut sudah cukup melekat di pasar (emang permen karet melekat). Seperti kata Krabby Patty yang ada di film Spongebob.

Hampir setiap hari anak-anak menyaksikan spongebob (sotoy abis). Hal itu membuat anak anak mudah mengenal apa itu Krabby Patty. Gw pikir bukan hanya anak anak, orang dewasa juga. Kenapa orang dewasa juga? Karena sebagai orang tua yang baik harus mendampingi anaknya dalam menonton televisi. Bahkan di televisi di tampilkan kode BO atau Bimbingan Orang tua. Itu artinya orang tua wajib nonton serial anak anak. Jadi secara tidak langsung apa yang diketahui anak anak akan dipahami orang tua. Itu sebabnya banyak produk anak anak yang dibeli atas keinginan orang tuanya. (Makin Sotoy)

Jika brandingnya sudah dikenal maka akan memudahkan dalam penjualan. Orang bilang jika tak kenal maka tidak sayang. Rasanya ungkapan itu tepat juga jika diterapkan pada kebutuhan brand suatu produk. Jika orang tidak kenal maka orang pun tidak akan "sayang" pada produk tersebut. Kalau gw mau jualan burger, gw pasti pake nama itu, Krebby Petti (biar ngga mirip sama yang ada di film Spongebob. Nanti dibilang menjiplak. Padahal dikit... Hehehe). Sekali pasang orang dewasa apa lagi anak-anak pasti akan penasaran dengan Krebby Petti.

Menurut analisa gw, pasar itu memiliki masa jenuh dalam melihat suatu produk. Mereka "bosan" dengan Burger tapi belum tentu denga Krebby Petti atau Krabby Patty. Bedanya hanya pada persepsi. Itu yang dibutuhkan pasar. Contoh kenapa persepsi itu penting dan bisa mempengaruhi konsumen. Misalnya, Anda dan keluarga makan bersama di restoran dan memilih menu seharga 100.000 untuk berempat. Setelah selesai, Anda  membayar makanan seharga 100.000 rupiah ditambah dengan pajak 10% plus service 5& menjadi 115.000 rupiah, Anda akan merasa bahwa ada biaya yang harus Anda keluarkan. Buat gw hal itu terasa merugikan.

Lain halnya jika Anda melihat menu makanan dengan harga 120.000 untuk berempat. Dan Anda membayar hanya 120.000. Anda akan berpikir bahwa wah murah juga 120.000 untuk berempat, tanpa pajak dan service pula. Lihat perbedaannya? Persepsi Anda akan mengatakan bahwa 120.000 itu murah karena tanpa pajak dan service. Walaupun secara nominal lebih murah 115.000. Tapi persepsi berkata lain. Sama halnya dengan Krabby Patty dan Humburger. Orang bosan dengan Humburger tapi belum tentu dengan Krabby Patty. It's About Perception.

Salam Bro..

Sabtu, 05 Januari 2013

Jangan Kecewakan Konsumen

Sebagai anak kosan, gw sangat mengandalkan laudry atau jasa cuci pakaian untuk sehari hari. Alasannya simple. Males nyuci sendiri (hehehe). Buat yang males kaya gw, jasa seperti ini menjadi peluang bisnis yang sangat potensial. Pasalnya, kebutuhan untuk mencuci merupakan kebutuhan "kodrati" yang tidak bisa ditawar-tawar. Coba saja bayangkan jika tidak ada yang mencuci pakaian. Beuh...pada bau dah.

Sebagai pelanggan setia jasa cuci mencuci, Gw pasti mencari jasa yang terbaik. Baik untuk hasil cucinya dan baik untuk kantong. Maklum anak kos (heheh). Awalnya gw memilih jasa A untuk mencuci. Dengan pertimbangan lebih dekat dan tidak perlu keluar bensin untuk mengantar pakaian. Salah satu prinsip ekonomi adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya. Atas dasar teori dari pak guru waktu SMP maka gw cari yang paling ekonomis. 

Setelah beberapa kali mencuci. Gw merasa tidak puas. Pertama, waktu buka laundry A terlalu siang. Gw yang lebih sering berangkat pagi (itu pun kalo bangun) merasa kesulitan jika harus menunggu laundry yang buka terlalu siang. Pernah, gw menyempatkan diri bangun siang (hehehe. Padahal tiap hari bangun siang) dan sudah siap pergi ke laundry dengan setumpuk pakaian kotor yang akan dicuci. Dengan semangat 45 gw jalan kaki ke laundry. Setibanya di sana. Gondok gw jatuh, mata gw terbelalak. Mulut gw menganga (lebay mode on) saat melihat laundrynya tutup-makan siang. Buset dah.. Akhirnya gw terpaksa balik lagi dengan cucian setumpuk. 

Keesokan harinya gw putuskan untuk pindah laundry. Hal sederhana seperti jam operasional dan ketersediaan tenaga stand-by di lokasi bisa menjadi kerugian. Jika itu terjadi pada setiap pelanggan. Maka berapa banyak laundry itu akan kehilangan pelanggan setiap bulannya. 

Setelah survey gw pun menemukan laundry yang cukup menarik. Di sana gw mendapatkan pelayanan yang ramah, dan gw bisa memiliih parfum apa yang akan digunakan pada pakaian. Selain itu, laundry ini menjamin bahwa cucian gw tidak akan di campur dengan cucian lain. Walau pun gw ngga melihat langsung prosesnya, tapi kata-kata itu cukup membuat gw tersihir untuk mencuci di laundry B. 

Gw memang harus mengeluarkan bensin motor karena agak jauh. Gw juga harus membayar lebih mahal (beda Rp1000-heheh). Tapi, karena gw merasa puas dengan hasil cucian yang bersih dan wangi, gw pun berlangganan di sana. Bulan berganti bulan, gw pun tetap setia di laundry B. Jadi, menurut gw pelanggan akan tetap setia jika mendapatkan point lebih. Bisnis laundry ada di mana-mana, namun jika bisa memberikan point lebih maka tetap akan diminati.

Hingga kemarin, gw masih setia. Kini, gw kecewa. Pasalnya, saat gw mau ambil cucian yang sudah gw titipkan sebelum libur natal dan tahun baru, pihak laundry memberi tahu bahwa mulai 1 januari mereka tidak menerima pakaian dalam. WHATTT!!!!. Jadi, gw harus mencuci pakaian dalam di tempat lain? Minus point. 
Karena penasaran, gw pun menayakan alasannya. Pihak laundry menjelaskan bahwa setelah mereka rapat "management" maka hal tersebut diputuskan. Pihak laundry tidak mau menerima pakaian dalam yang kotor. Menurut mereka banyak dari pekerja cuci mereka yang muntah saat mendapati pakaian dalam kotor. BAHH... Terus harus mencuci pakaian dalam bersih? (hahhaha). Namanya juga jasa cuci. Ya, harus siap dengan hal seperti itu. Pihak laundry meminta maaf berkali-kali karena merasa merugikan pelanggan lain. Tapi buat gw, maaf itu tidak bisa mengurungkan niat gw untuk mencari laundry baru yang mau mencuci pakaian kotor. Hilang pelanggan lagi. 

Bisnis jasa bukan sekadar menjual jasa tapi harus juga memberikan pelayanan dan kepuasan pelanggan. Berbeda sedikit dari bisnis product, mengecewakan pelanggan dalam bisnis jasa bisa fatal akibatnya. Apalagi kekuatan verbal dari konsumen yang kecewa dan menceritakan hal tersebut bisa berdapak pada, peyebaran informasi yang cepat. Dan ujung-ujungnya konsumen tidak lagi mau menggunakan jasa tersebut. 


Salam Bro

Pengantar dan Perkenalan

Terima kasih sudah masuk ke Blog ini. Mungkin, Anda tidak sengaja masuk ke Blog ini dan mengira bahwa ini adalah Blog kuliner yang mengulas tentang SOMAY. Tidak 100% Anda Salah. Blog ini bisa jadi Blog kuliner yang melihat dari sisi berbeda. 

SOMAY sendiri merupakan singkatan dari Sotoy Maniya. Kalau ketemu dengan ahli bahasa bisa saja Kata Maniya yang seharusnya ditulis Mania jadi perdebatan yang panjang. Alasannya sederhana. Yahoo saja pake huruf Y (hahhaa). Kalau Yahoo pake huruf I jadinya Iahoo (hahaha). Namanya juga Sotoy alias sok tahu. 

SOMAY ditulis oleh tiga orang (rencananya). Panggil saja kami dengan Bro, Men, Cuy. Yang sudah pasti nulis itu Bro sama Men. Gw yang nulis ini Bro. Cuy masih dalah tahap konfirmasi. Tau deh mau apa ngga (hahahah). Kami ingin berbagi cerita dan ke-sotoy-an kami seputar dunia bisnis dan wirausaha. Berbekal pengalaman dan kegagalan, kami pengusaha yang belum berhasil ini ingin berbagi dengan sesama pejuang kehidupan (hahahah).

Kayaknya, sekian dulu perkenalan dari Gw. Nanti kita sambung lagi. Tunggu cerita dan ke-sotoy-an kami ya (emang penting ya?Hahaha). 


Salam Bro..